Singkat cerita, ia kembali ke tanah air tetapi malah dipenjarakan oleh pemerintah penjajahan yang merasa ketar-ketir oleh kedatangannya kembali.
Sebagai seorang ayah yang memiliki istri dan anak, beliau pasti merasakan rindu yang teramat dirasakan.
Di dalam jeruji ia mendapat kabar bahwa istrinya mengalami pendarahan ketika proses persalinan anak ke-3 nya.
Ki Hajar Dewantara mendapatkan semangat dari istrinya untuk tetap memperjuangkan hak pendidikan bagi bangsa Indonesia.
Setelah terbebas dari kurungan, beliau mendirikan sekolah dengan nama Taman Siswa. Sampai saat itu ia mengubah namanya dari Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara.
Menurutnya, kemerdekaan bukan hanya sebatas terlepas dari penjajahan, tetapi kemerdekaan berarti terlepas juga dari kebodohan.
Dalam tullisan terkenalnya yang berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda” terdapat kalimat yang mengritik tajam pemerintah Belanda.
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidakakan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si Inlander memberikan sumbangan dana untuk perayaan itu.
“Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal terutama yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa Inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikitpun baginya.”
Tulisan itulah yang membuatnya diasingkan ke Belanda, tulisannya dimuat dalam surat kabar De Express dan membakar semangat juang bangsa Indonesia.
Kini kita dapat merasakan nikmatnya menuntut ilmu dan menempuh pendidikan sebebas-bebasnya.
Kemerdekaan yang kita rasakan sekarang tidak terlepas dari perjuangan para pahlawan sebelumnya.
Ki Hajar Dewantara tutup usia pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta. Upacara pemakamannya dipimpin oleh Soeharto sebagai inspektur upacara.
Editor Haidaroh











