RADARBANTEN.CO.ID – Beginilah kronologi penembakan Kantor Majelis Ulama Indonesia menurut Wakil Ketua MUI Anwar Abbas.
Peristiwa penembakan ini terjadi pada Selasa, 2 Mei 2023 pukul 11.00 WIB. Pelaku penembakan pertama-tama datang ke meja resepsionis.
Kemudian dua petugas resepsionis menanyakan ada keperluan apa atas kedatangan pelaku. Pelaku menjawab ingin bertemu dengan Ketua MUI.
Tetapi tiba-tiba pelaku langsung menodongkan senjata dan menarik pelatuk.
Akibat penembakan tersebut 1 orang mengalami luka tembak ringan di punggung dan 1 orang lainnya luka di tangan akibat serpihan kaca yang pecah.
Pelaku penembakan berhasil diringkus langsung di tempat kejadian perkara sedangkan korban dilarikan ke rumah sakit.
Setelah ditangkap, ternyata pelaku sudah dalam keadaan lemas, akhirnya dibawa ke puskesmas terdekat. Tetapi tidak lama kemudian pelaku dinyatakan meninggal.
Asrorun Ni’am selaku ketua bidang fatwa MUI menyatakan tidak ada yang mengenali pelaku di lingkungan kantor MUI.
Dari kejadian tersebut, polisi melakukan olah TKP agar dapat mengetahui apa sebenarnya motif dari pelaku. Menurut keterangan polisi, pelaku berusia 60 tahun berasal dari daerah Lampung.
Dua korban dari kejadian penembakan tersebut telah dirawat di rumah sakit dan kabar terakhir yang didapat sudah diperbolehkan pulang.
Dalam penembakan, pelaku menggunakan tembakan jenis Airsoft gun (bukan senjata api). Akibat dari penembakan ini sejumlah pegawai saat itu panik dan membuat kerusakan fasilitas kaca lobi kantor MUI.
Kabid Humas Polda Lampung memberikan keterangan telah melakukan penyelidikan terhadap pelaku bahwasanya pelaku juga pernah melakukan tindakan perusakan di kantor DPRD Lampung pada tahun 2016.
Dari kasus penrusakan kantor DPRD pelaku mengaku sebagai Nabi dan kemudian telah dipidanakan oleh pihak berwajib.
Kembali kepada kasus penembakan kantor MUI, Anwar Abbas selaku Ketua MUI membeberkan detail kronologi kejadian.
“Informasi yang saya dapatkan pelaku dibekuk oleh 2 satpam dan 1 karyawan. Kemudian dia (pelaku) masih memegang pistol kemudian tangannya digoyang-goyang dan pistol jatuh,” jelas Anwar Abbas.
“Begitu pistolnya jatuh, sopir pribadi saya mengamankannya. Ketika penembakan pelaku 3 kali mematuknya tapi yang bunyi hanya 2,” tambahnya.
Informasi terakhir mengenai pelaku, dikabarkan meninggal dunia tetapi belum diketahui sebab meninggalnya.
“Saya bingung juga kenapa pelaku bisa meninggal ya?” Ucapnya heran ketika ditanya mengenai sebab pelaku meninggal.
Itulah kronologi penembakan kantor pusat Majelis Ulama Indonesia. Polisi menyatakan masih akan mendalami kasus ini.
Editor Haidaroh











