SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Persoalan stunting atau masalah gizi pada anak yang menyebabkan anak mengalami keterlambatan pertumbuhan masih menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Provinsi Banten.
Sebab, angka stunting di Banten masih sangat tinggi. Bahkan, sekitar 20 persen dari total masyarakat Banten disebut mengalami stunting.
Selain itu, ada juga 713 ribu Kepala Keluarga (KK) lain di Banten disebut berpotensi dan beresiko memempunyai anak stunting.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Banten Rusman Efendi. Katanya, terdapat beberapa indikator yang bisa menyebabkan suatu keluarga berisiko mengalami stunting.
Di antaranya, kurangnya pemenuhan gizi pada anak di usia emas atau 1.000 hari kelahiran dan faktor lingkungan.
“Di Banten ada 63 ribu keluarga risiko stunting yang disebabkan tidak memiliki air bersih, kemudian tidak memiliki jamban sebanyak 240 ribu keluarga, dan ibu-ibu hamil dengan jangka kelahiran pendek sebanyak 410 ribu,” kata Efendi kepada RADARBANTEN.CO.ID, Kamis, 25 Mei 2023.
Efendi mengatakan, dengan menyangkut berbagai faktor itu, maka diperlukan kolaborasi pentahelix dari semua pihak. Swasta, perguruan tinggi, maupun kelompok masyarakat umum secara langsung.
BKKBN Banten sendiri terus mendorong kepada para Kepala Daerah di Banten untuk memberikan inovasi-inovasi dalam mengentaskan stunting.
Ia pun memuji inovasi Program Jumat Serius alias Seribu Hari untuk Stunting yang diinisiasi oleh Pemkab Lebak.











