SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Serang melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPKD) Kabupaten Serang menggelar lomba bercerita atau mendongeng bagi siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat di Kabupaten Serang.
Pelaksanaan perlombaan sendiri dimaksudkan untuk menggali potensi cerita-cerita rakyat di Kabupaten Serang dan mengajak siswa untuk mengenali budayanya di tengah perkembangan teknologi.
Kepala DPKD Kabupaten Serang, Aber Nurhadi mengatakan, pasca berpisah dari Jawa Barat, Kabupaten Serang belum memiliki kisah rakyat yang terkenal.
“Kita justru masih mengenalnya cerita daerah lain misalnya dari Jawa barat, padahal di kita sendiri banyak potensi cerita legenda atau yang lainnya itu banyak yang bisa diungkap dan itu memiliki nilai-nilai karakter untuk dikembangkan ke anak-anak dimasa yang akan datang,” katanya saat ditemui di aula TB Suwandi, Kamis 27 Juli 2023.
Menurutnya, penting sekali menanamkan nilai-nilai karakter pada anak-anak di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Meskipun anak-anak kita sebut milenial ya, tetapi nilai-nilai karakter itu tidak bisa lepas dari nilai-nilai budaya Indonesia itu sendiri,” jelasnya.
Pihaknya ingin memberikan kesempatan keada anak-anak untuk memperoleh pengalaman nyata menghimpun cerita dan menyampaikannya kepada anak-anak.
“Diharapkan pengalaman-pengalaman ini menambah kuat mentalnya, tanggung jawabnya, kemudian kerja kerasnya kesungguhannya kerena dia memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik,” jelasnya.
Ia pun berharap melalui kegiatan tersebut dapat melahirkan pendongeng-pendongeng handal yang nantinya dapat mengenalkan kebudayaan-kebudayaan kabupaten Serang melalui cerita legendanya kepada generasi selanjutnya.
“Kita harapkan lahirnya pendongeng-pendongeng yang handal dari kabupaten Serang yang bisa memberikan nila-nilai budaya kepada generasi selanjutnya,” jelasnya.
Menurutnya saat ini orangtua sudah jarang sekali menceritakan dongeng kepada anak-anak. Padahal hal tersebut sangat penting untuk membangun karakter anak.
“Contoh saya dulu banyak diceritakan oleh orang tua tentang perjalanan hidupnya sehingga saya termotivasi untuk mengubah nasih keluarga karena cerita pedih orang tua,” jelasnya.
Bahkan saat ini banyak anak-anak justru memperoleh cerita-cerita dari media sosial yang tentunya tidak bisa terkontrol oleh orangtua. “Mudah-mudahan tumbuhlah anak-anak yang maju tetapi tetap menggemari nila-nilai budaya tradisinya. Seperti halnya Jepang, meski moderen tetapi nilai kebudayaannya tidak ditinggalkan,” imbuhnya.
Ia pun mengapresiasi para peserta yang saat ini banyak mengangkat cerita-cerita di daerahnya sehingga dapat menambah khasanah pengetahuan masyarakat mengenai asal muasal daerah tersebut.
“Banyak sekali cerita cerita baru yang diangkat. Bahkan banyak juga cerita lama namun kita baru tahu tentang kisah misal batu kuwung, dan lain sebagainya, kan kita baru tahu,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Aditya











