SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Para pemilik penggilingan padi yang ada di Kabupaten Serang berencana akan melakukan aksi unjukrasa di kawasan pabrik milik PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) yang berlokasi di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, besok Rabu 30 Agustus 2023.
Aksi tersebut dilakukan lantaran para pengusaha merasa kesulitan ketika masuknya PT Wilmar Padi Indonesia sehingga membuat harga gabah di petani melambung tinggi. Bahkan harga beli dari WPI dinilai telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Ketua Komunitas Penggilingan padi Kabupaten Serang Surnadi mengatakan, semenjak 8 bulan terakhir, dia tidak dapat membeli gabah dari para petani di Kabupaten Serang lantaran harganya yang sangat tinggi. Bahkan kondisi tersebut dirasakan oleh hampir 80 persen pengusaha penggilingan padi yang ada di Kabupaten Serang.
“Dampaknya semenjak ada Wilmar harga di petani tinggi jadi kami penggilingan kecil tidak bisa ikut beli padi karena daya saing kita untuk dijual di pasar tradisional sehingga tidak bisa mengikuti harga beli Wilmar. Ujungnya kita tidak kebagian barang,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa 29 Agustus 2023.
Menurutnya, semenjak adanya PT WPI harga jual para petani menjadi sangat tinggi. Bahkan harga saat ini dinilai sudah melewati HET yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
“Harga di petani sekarang sudah mencapai Rp6.600 untuk gabah basah, sampai ke penggilingan Rp6.700 gimana kita mau kerja? Harga yang dibeli wilmar juga melampaui HET pemerintah pembeliannya. HET pemerintah hanya Rp5.200,” tegasnya.
Untuk itu, pihaknya bersama dengan komunitas Penggilingan Padi Provinsi Banten akan menggelar aksi di kawasan PT WPI dengan jumlah massa aksi sebanyak 2.000 orang.
“Akan ada 2.000 massa dari Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, Tangerang dan Kota Serang. Karena dampaknya bukan cuman di Serang, kesulitan bahan baku hampir di semua Kabupaten Kota di Banten,” jelasnya.
Dalam aksi tersebut, pihaknya akan menyampaikan dua tuntutan yakni meminta agar PT WPI tak lagi membeli gabah dari petani atau satu pintu.
“Tuntutan kita ada dua kalau ga ditutup paling satu pintu, nanti pihak komunitas yang mengelola. Wilmar harus beli lewat komunitas, sehingga harga di bawah tidak melonjak, kita standar kan,” jelasnya.
Lebih lanjut pihaknya berharap agar pemerintah mengakomodir keinginan dari para pengusahan penggilingan padi agar mereka bisa kembali menjalankan usahanya.
“Harapan kita tuntutan supaya dipenuhi, supaya penggilingan kecil bisa kembali ikut berusaha dan jalan. Dampaknya bukan cuman di pabrik, tapi semua. Karyawan di pabrik misal ada 10 di kali 1000 udah berapa penganggurannya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











