SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Banten menanam cabai di Desa Kadubeureum, Padarincang, Kabupaten Serang, Jumat, 1 September 2023. Desa itu akan dijadikan sentra cabai di Banten untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Penanaman cabai itu juga dilakukan dalam program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Lantaran cabai menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Imaduddin Sahabat mengatakan, kegiatan tersebut merupakan implementasi atas arahan Presiden dalam mewujudkan sinergitas di tubuh pemerintah daerah untuk mengendalikan inflasi. “Pak Presiden sudah meminta aparat pemerintah daerah dan Bank Indonesia untuk turut menggiatkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan,” ujar Imad saat kegiatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan di Padarincang, Kabupaten Serang.
Kata dia, GNPIP ini ada tujuh program. Misalnya, ada kerjasama antar daerah. “Itu penting karena tidak semua punya produksi, seperti cabai, bawang. Kita masih impor dari daerah lain. Kan harus ada kepastian pasokan,” terangnya.
Kemudian, lanjut Imad, ada operasi pasar dan gerakan menanam. Gerakan menanam di Banten, tidak hanya bagi-bagi cabai tapi ada inisiatif untuk mengadakan sentra cabai. “Minimal kalau terjadi sesuatu kita punya pasokan,” ujar Imad.
Biasanya apabila dilakukan asesmen inflasi, ketika harga cabai naik, maka dikatakan ada gangguan di pasokan. “Tapi kalau sekarang, kita punya dari sisi hulu. Termasuk hilirisasinya,” terang Imad.
Ia mengatakan, produksi cabai Banten di Indonesia menduduki posisi ke-19. Untuk mencapai 10 besar harus produksi 130 ribu ton. Makanya, Banten bagian selatan akan didorong. “Di Pandeglang kita dorong untuk sentra bawang. Banten secara holtikultura mandiri,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu Imaduddin menegaskan, bahwa kondisi inflasi di Provinsi Banten saat ini sangat terkendali. Bahkan, kata dia, terjadi deflasi saat ini yang merata hampir di kabupaten/kota se-Provinsi Banten.
“Inflasi Banten sangat terkendali. Merata hampir di seluruh kota. Ini luar biasa,” tutur Imad.
Di tempat yang sama, Pj Gubernur Provinsi Banten Al Muktabar mengaku terus berikhtiar untuk dapat mengendalikan inflasi di Provinsi Banten. “Ikhtiar yang kita lakukan terlihat hasilnya, seperti inflasi terkendali, pertumbuhan ekonomi baik, tingkat hunian hotel meningkat, lalu juga investasi kita dorong,” ujar Al.
Kata dia, gerakan menanam cabai ini merupakan salah satu tindak lanjut dari arahan Presiden RI Joko Widodo saat rapat koordinasi nasional pengendalian Inflasi tahun 2023 di Istana Negara, Kamis, 31 Agustus 2023. “Cabai adalah komoditi yang harus kita jaga. Dan prinsip dasar adalah, besok tidak ada, hari ini kita harus tetap menanam. Mudah-mudahan ikhtiar ini baik bagi kita bersama,” tuturnya.
Ia mengatakan, sentra cabai bisa tersebar di beberapa kabupaten di Banten, khususnya di Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang. Kemudian juga bisa di perkotaan, termasuk di tanam oleh masyarakat di pekarangan rumah masing-masing.
Apabila masih terbatas, Al mengaku pihaknya melakukan kerjasama dengan berbagai daerah di Indonesia. BUMD Provinsi Banten juga didorong untuk bekerjasama.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus Tauchid melaporkan, jika cabai salah satu komoditas yang menyumbang inflasi di Provinsi Banten. Kebutuhan konsumsi cabai di Banten per tahun 45.822 ton. Sedangkan tahun 2022, produksi cabai sebesar 6.738 ton. “Tahun 2023 sampai dengan bulan Agustus, baru mencapai 2.310 ton,” ujarnya.
Untuk itu kata dia, kolaborasi Pemprov Banten, Pemerintah Kabupaten/kota se-Banten beserta Bank Indonesia sangatlah diperlukan untuk terus memaksimalkan langkah-langkah strategis dalam pengendalian pangan.
Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengatakan, Pj Gubernur Banten, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Forkompinda Provinsi Banten, serta Bupati Serang melakukan hal yang sangat baik dan signifikan. Lantaran cabai ini menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi. “Jadi kalau hari ini tanam cabai, bisa memenuhi daerah sendiri apalagi nanti sebagai penyangga. Ini tentunya sangat baik. Kita itu menanam apa yang diperlukan orang. Jangan menanam yang tidak diperlukan,” ujarnya.
Kata dia, saat ini semua orang membutuhkan cabai. Komoditas ini sangat menjanjikan ke depan. Namun perlu diatur pola tanamnya. “Dan diapresiasi setinggi-tingginya karena ini action langsung. Jadi bisa dipakai menjadi contoh provinsi lain di Indonesia, mulai dari Banten,” tutur Arief.
Sementara itu, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menambahkan, dari 146 hektare luas Kabupaten Serang, sekira 50 sampai 60 hektare itu daerah pertanian, yang terdiri dari sawah, kebun, dan tanaman holtikultura. Di Padarincang, lahan yang siap untuk digunakan bercocok tanam cabai seluas 15 hektare. “Di Pabuaran, dekat sini, ada 20 hektare. Sangat siap Kabupaten Serang menjadi sentra cabai,” tegasnya.
Kata dia, satu hektare lahan bisa menghasilkan 15 ton cabai. Apabila dikonversikan ke Rupiah, maka nilainya juga bagus.
Reporter : Rostinah











