TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Kasus kekerasan pada anak dan perempuan di Kota Tangsel mengalami kenaikan. Dari data sejak Januari hingga September 2023, tercatat ada 244 kasus. Sedangkan pada Januari-September 2022, tercatat 220 kasus.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangsel
Cqhyadi mengatakan, kenaikan kasus kekerasan pada anak dan perempuan yang terjadi di tahun ini disebabkan banyak faktor.
Namun, jika melihat pada sisi positifnya, maka kenaikan kasus juga dapat diasumsikan adanya kesadaran korban untuk melapor, edukasi yang dilakukan berjalan, keberadaan UPT PPA yang diketahui secara luas sebagai tempat pendampingan korban kekerasan serta adanya kepercayaan korban jika melapor, maka persoalannya dapat dibantu.
“Banyak efek yang menyebabkan kasus naik, misalkan keberadaan kantor PPA banyak diketahui masyarakat, timbulnya kesadaran masyarakat, edukasi yang kita lakukan juga terus berjalan, karena kita gencar menyosialisasikan ini,” ujar Cahyadi kepada RADARBANTEN.CO.ID, Senin, 23 Oktober 2022.
Cahyadi mengatakan, kasus kekerasan pada anak dan perempuan yang terjadi baik kekerasan fisik, seksual, penelantaran dan lain sebagainya seperti fenomena gunung es. Di atas terlihat kecil, namun yang tersembunyi jauh lebih besar.
Pihaknya justru merasa senang kasus kekerasan pada anak dan perempuan terkuak tidak ditutupi, sehingga penanganan terhadap korban dapat dilakukan.
Cahyadi mengatakan, dari 244 kasus yang ada tahun ini sudah 64 kasus tertangani hingga selesai. Kasus yang ditangani hingga selesai biasanya kasus hukum, di mana pelakunya sudah diputus bersalah oleh Pengadilan Negeri dan korban mendapat trauma healing dari petugas.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Aas Arbi











