“Jadi dokter bilang ini udah buta permanen, dan enggak bisa diobati waktu itu, saat sedang menjalani pemeriksaan,” ungkap Kokom.
Untuk menyambung hidup, Rusmani mencoba melakukan pijat dengan keahlian yang ia miliki.
Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, istri dari Rusmani, yakni Winah (65), bekerja sebagai buruh tani.
Sementara, untuk memasak dan menyiapkan keperluan rumah, dilakukan oleh Romlah, anak terakhir Rusmani.
Selama 23 tahun buta, Rusmani selalu bersyukur dengan bantuan secukupnya dari Pemerintah melalui program BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), PKH (Program Keluarga Harapan), dan Lebak Sejahtera karena disabilitas.
Namun, Rusmani bukan tak merasa bersyukur keadaan sulitnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari memang tidak selalu cukup dengan keluarga besarnya.
“Alhamdulillah, saya bersyukur, tetapi mau gimana lagi, kadang juga kan kebutuhan sehari-hari juga banyak, saya juga mencoba untuk bekerja sebisa mungkin,” ucapnya.
Keterbatasan yang dialami Rusmani dan kelima anaknya, dialami pula oleh Mustika (17), anak dari Kokom sekaligus cucu Rusmani.
Mutika harus berjalan 1,5 jam ke sekolahnya di SMA Negeri 1 Warunggunung.
“Kadang sekolah, kadang enggak. Nenek suka ngasih uang jajan itu buat ongkos ke sekolah naik angkot,” tutur Mustika.











