SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Oknum pengacara asal Walantaka, Kota Serang berinisial JU (43) ditahan oleh penyidik Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Banten.
Ia ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencabulan terhadap R (15).
Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Banten Kompol Herlia Hartarani mengungkapkan, penetapan JU sebagai tersangka dilakukan pada Kamis dini hari, 7 Desember 2023.
“Tim penyidik Ditreskrimum Polda Banten melakukan gelar perkara penetapan tersangka, sekira pukul 02.00 WIB pasca gelar perkara pelaku ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di rutan Polda Banten,” kata Herlia.
Tersangka dijerat dengan Pasal 81 Jo Pasal 76d dan atau Pasal 82 Jo Pasal 76e Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Ancaman pidananya yakni maksimal 15 tahun. “Selain itu juga denda paling banyak Rp 5 miliar,” ujarnya.
Herlia menjelaskan, tersangka dilakukan penangkapan di kantor hukumnya di salah satu perumahan di Walantaka pada Rabu sore, 6 Desember 2023. Saat proses penangkapan banyak warga sekitar yang menggeruduk kantor tersangka.
Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, tersangka langsung dibawa ke Mapolda Banten untuk dilakukan pemeriksaan.
“Pada Rabu tanggal 6 Desember 2023 sekira pukul 17.14 WIB, tim penyidik Ditreskrimum Polda Banten berhasil mengamankan pelaku di salah satu kompleks di Kecamatan Walantaka Kota Serang,” ungkapnya.
Herlia mengungkapkan, kasus dugaan pencabulan tersebut sebelumnya dilaporkan SA (42) ibu dari R. Laporan polisi itu dibuat pada Rabu 15 November 2023.
“Laporan polisinya Nomor: LP/B/308/XI/SPKT.I DITRESKRIMUM/2023/Polda Banten yang dilaporan oleh SA (42) ibu korban pada Rabu 15 November 2023,” katanya.
Berdasarkan laporan tersebut, kasus dugaan pencabulan itu terjadi pada November 2022 lalu. Kejadiannya berlangsung di sebuah hotel di Kota Serang. Modus tersangka dengan bujuk rayu berupa memberikan ponsel dan ancaman menggunakan senjata air soft gun.
“Tersangka melakukan tindak asusila terhadap korban atau melakukan pemaksaan untuk berhubungan layaknya suami istri dan terjadi beberapa kali, kejadian ini mengakibatkan korban mengalami trauma dan selanjutnya melapor ke SPKT Polda Banten,” ungkapnya.
Kuasa Hukum JU, Bahtiar Rifai mengatakan, kliennya tidak punya hubungan khusus dengan R begitu juga ibunya SA. JU dan pelapor hanya bertetangga. “Tidak ada hubungan khusus, hanya bertetangga karena tinggal di satu kompleks,” ujarnya.
Bahtiar membantah, pengakuan korban yang telah melakukan hubungan suami istri dengan kliennya. Ia juga membantah, kliennya menyetubuhi anak dibawah umur itu dengan mengiming-imingi sebuah ponsel. “Dia (JU) membantah karena tidak melakukannya. Ponsel itu diberikan klien kami kepada ibunya bukan kepada anaknya,” katanya.
Bahtiar menegaskan, pemberian ponsel oleh tersangka kepada SA sebagai bentuk kepedulian. Sebab, SA dan anaknya kerap ribut masalah ponsel. “Ibunya ini benar janda, klien kami memberikan ponsel itu karena kasian. Ibunya sering ribut karena mau pakai untuk keperluannya sedangkan anaknya butuh untuk sekolah,” tutur.
Reporter: Fahmi
Editor: Aditya











