Sebelum tahun 1999, kita mengenalnya sebagai Provinsi Timor Timur. Provinsi ke-27. Dulu sering jadi soal. Dan jadi jawaban. Semua berubah setelah referendum 30 Agustus 1999. Mayoritas memilih berpisah. Pada 20 Mei 2002, lahirlah negara baru yang berdaulat: Timor Leste.
Kemarin. Di kantor Disway, Palmerah, Jakarta, saya menerima konselor Timor Leste. Namanya D. Savio. Sekolah sampai kuliah di Indonesia. Bahasanya lancar.
Cara berpikirnya terasa dekat. Perbincangan kami hangat. Ia bercerita banyak. Tentang negaranya. Tentang bagaimana mereka membangun dari nol.

Saya tidak akan menulis semuanya. Cukup yang membuat saya berpikir. Tentang kesehatan. Di sana, layanan kesehatan publik digratiskan bagi warga. Negara hadir. Walau fasilitas belum sempurna, arah kebijakannya jelas: melindungi.
Tentang pendidikan. Sekolah negeri dari dasar sampai menengah digratiskan. Bahkan diwajibkan. Tidak boleh ada yang tidak sekolah.
Ada program makan di sekolah: Merenda Escolar. Untuk anak prasekolah dan sekolah dasar. Mirip MBG yang sekarang ramai di kita. Program ini dimulai sekira 2005. Awalnya dengan dukungan World Food Programme.
Saat itu, masalah gizi dan akses pendidikan masih berat. Lalu 2009–2010, pemerintah mulai mengambil alih. Menjadikannya program nasional. Dan berjalan sampai sekarang. Bukan sekadar makan. Tapi cara melawan stunting. Banyak keluarga tidak mampu memberi makan cukup. Dan program ini membuat anak-anak datang ke sekolah.
Timor Leste negara kecil. Penduduknya sekitar 1,4 juta jiwa. Kalau di Jawa, setara satu kabupaten. APBN-nya sekira Rp36 triliun. “Kami tangguh. Walau uang kami tidak banyak,” kata Savio.
Saya menangkap satu hal: Mereka ingin serius merawat masa depan. Minyak dan gas tidak dihabiskan. Ditabung dalam Petroleum Fund. Penggunaannya dijaga. Ada batas keberlanjutan. Tidak boleh sembrono. Mereka belajar dari Norway. Negara kaya minyak. Hasilnya tidak dihabiskan hari ini. Mereka simpan.Mereka kelola. Lewat dana abadi. Hanya sebagian kecil yang dipakai. Sisanya dijaga.
Karena mereka paham satu hal: minyak bisa habis. Negara tidak boleh ikut habis. Timor Leste melihat itu.Menjadikannya contoh. Negara baru. Tapi tidak ingin salah langkah sejak awal. Di sisi lain, mereka juga mengejar ketertinggalan. Jalan dibangun. Jembatan diperbaiki. Akses listrik diperluas.
Kini hampir seluruh wilayah menikmati listrik. Internet mulai masuk ke banyak daerah. 4G diperluas. Koneksi internasional diperkuat, termasuk lewat kabel bawah laut. Bagi negara dengan banyak gunung, akses itu bukan hal kecil. Internet jadi jalan baru. Jalan yang tak terlihat. Untuk pendidikan. Untuk kesehatan. Kalau pasien jauh, dokter bisa berkonsultasi dengan tenaga ahli di tempat lain. Kalau sekolah sulit dijangkau, materi tetap bisa sampai. Teknologi jadi jembatan. Menghubungkan yang jauh. Mendekatkan yang sulit.
Ada juga tunjangan lansia. Untuk warga usia 60 tahun ke atas. Diberikan sampai akhir hayat. Bukan sekadar bantuan. Tapi pengakuan. Bahwa mereka tetap berarti. Di akhir pertemuan, Savio tersenyum.
Ia mengajak. “Datanglah ke Timor Leste. Kita ini dekat sejak dulu.”
Sekarang akses makin mudah. Dari Kupang ke Dili bisa lewat jalur darat.
Ada bus, termasuk DAMRI. Jalannya semakin baik. Lebih aman.
Undangan itu sederhana. Tapi terasa dalam. Saya ingin menjawabnya. Saya ingin melihat langsung. Bukan dari cerita. Karena selalu ada jarak antara apa yang dikatakan dan apa yang benar-benar terjadi. Dan di situlah sebuah tulisan menemukan maknanya. (Mashudi)










