SERANG – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Banten menyebut Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyesatkan. Hal itu dikatakan langsung oleh Ketua Bawaslu Banten Ali Faisal.
Sebutannya itu bukan tanpa dasar, sebab Bawaslu melihat simulasi pemunggutan suara yang dilakukan oleh KPU dibeberapa tempat di Banten tidak sesuai dengan realita.
Bahwa, dalam simulasi pemungutan suara, KPU hanya menyediakan kertas suara yang berisi dua pasangan calon presiden (capres). Sementara, Pemilu 2024 nanti diketahui diikuti oleh tiga pasangan capres. Yakni, pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
“Simulasi itu bertujuan memberi informasi dan pemahaman pada pemilih tentang bagaimana tatacara dan proses teknis pungut hitung dan dekap hasil suara. Tapi ini kenapa contoh surat suara untuk Pilpres yang digunakan hanya mencantumkan dua paslon, padahal kan di Pilres 2024 ini ada tiga paslon,” katanya kepada Radar Banten, Selasa 2 Januari 2023.
Menurut Ali, jika simulasi yang dilakukan KPU Kabupaten/Kota di Banten harus disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya. Hal ini agar memberikan pemahaman tata cara dan proses pungut hitung dan rekap suara agar tidak menimbulkan kebingungan pada masyarakat.
“Harusnya real tiga calon, kecuali belum ditetapkan. Ini mah sudah ditetapkan berapa capresnya, sehingga semulasi yang dilakukan KPU kemarin itu membingungkan, dan menyesatkan masyarakat,” ujar Ali.
Ali mengaku sangat menyayangkan sikap dari KPU yang hanya menyimulasikan dua pasangan calon saja. Hal tersebut tentu membuat masyarakat bingung.
“Masyarakat yang mengikuti simulasi kemarin khsusunya mereka yang awam akan bingung, karena tidak sesuai dengan jumlah yang real nya gitu nanti di waktu pemunggutan nanti yaitu pada tanggal 14 Februari,” ujarnya.
Kata Ali, simulasi pemunggutan suara kemarin seharusnya dilakukan dengan mensimulasikan kondisi Pemilu 2024 yang diikuti oleh tiga pasangan capres ini. Sehingga tujuan dari simulai itu yakni untuk mengedukasi warga dapat tercapai.
“Yang dilakukan kemarin oleh KPU kan mensimulasikan pelaksanaan pemunggutan suara, mulai dari pencoblosan, perhitungan dan teknis lainnya. Nah jika proses pemunggutan suara yang sifatnya sangat fundamental ini disimulasikan dalam kondisi yang real, maka pendidikan politik tidak dapat tercapai dengan benar,” ungkapnya.
Bawaslu pun meminta kepada KPU, untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat secara real dengan kondisi Pemilu saat ini. Hal itu perlu dilakukan agar tujuan pendidikan politik dapat tercapai, dan Pemilu 2024 bisa berjalan dengan lancar.
“Prinsipnya menyesalkan kejadian ini, kalau misalnya di 2024 ini ada lagi simulasi semacam itu ya, tolong yang real gitu. Kalau memang ada tiga pasangan calon nya, ya tiga pasangan calon yang dicantumkan juga dalam simulasi itu,” pintanya.
“Kami berharap dalam KPU tidak melakukan simulasi yang menyesatkan dan membingungkan karena simulasi terjadinya memberikan gambaran utuh pada masyarakat soal pelaksanaan pesta demokrasi nanti,” pungkasnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aditya











