PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Perkembangan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pandeglang mengkhawatirkan. Ratusan orang yang terjangkit DBD saat ini tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah dan puskesmas.
Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang, sejak Januari 2024 tercatat 308 kasus DBD. Pada bulan Februari 2024, terdapat 3 kasus kematian akibat terjangkit DBD.
Kemudian berdasarkan informasi yang dihimpun dari RSUD Berkah Pandeglang, pada bulan Januari 2024 RSUD Berkah Pandeglang menerima sekitar 144 pasien yang didiagnosis DBD menjalani perawatan. Sedangkan bulan Februari terakhir ini mencapai 108 pasien yang sedang menjalani perawatan. Mayoritas pasien yang didiagnosis mengalami DBD berusia dewasa, sepertiganya usia anak-anak
Wadir Pelayanan RSUD Berkah Pandeglang Dr. H. Kodiat Juarsa menyampaikan, berdasarkan data yang diperoleh RSUD Berkah Pandeglang, jumlah pasien yang dirawat selama periode Januari hingga akhir Februari 2024 ini tergolong tinggi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, Dian Handayani menjelaskan bahwa memang kasus DBD terjadi peningkatan signifikan di Kabupaten Pandeglang.
“Pada bulan Januari tercatat 308 kasus, dan hingga bulan Februari baru terdapat 3 kasus kematian yang dilaporkan. Namun, data terakhir belum sepenuhnya tersedia,” ungkapnya, Rabu 28 Februari 2024.
Kepala Puskesmas Saketi Oman Firmansyah juga menyatakan kasus DBD mengalami peningkatan. Data terakhir menunjukkan ada 48 kasus terjangkit DBD di dalam wilayahnya, sementara di luar wilayah tercatat 36 kasus.
“Alhamdulillah, tidak ada kasus kematian. Menghadapi peningkatan kasus DBD yang mungkin signifikan ini, kami telah memberikan pemberitahuan kepada masyarakat untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),” ujar saat dikonfirmasi.
“Sedangkan untuk fogging ke desa-desa yang terjangkit pun telah dilakukan,” sambungnya.
Terpisah, Kepala Puskesmas Cikupa Pandeglang Hasan Jaelani, mengatakan, saat ini telah terjadi peningkatan kasus DBD yang signifikan akibat dampak perubahan iklim cuaca saat ini. Telah tercatat 17 kasus terjangkit DBD.
“Ya pada saat ini perkembangan kasus DBD memang terlihat ada peningkatan yah, karena sekarang melihat cuaca musim panas ke penghujan. Bulan Januari 9 kasus kemudian bulan Februari ada 7 kasus dan meninggal dunia 1, total berjumlah 17 kasus terjangkit DBD,” katanya.
Lebih lanjut, pasien yang diduga mengalami kasus DBD biasanya hanya menjalani perawatan rawat jalan di puskesmas. Namun, jika diperlukan tindakan yang lebih serius, pasien akan dirujuk ke RSUD untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif.
“Di puskesmas biasanya tidak dilakukan perawatan intensif untuk kasus DBD, lebih kepada rawat jalan saja. Jika diagnosis menunjukkan kemungkinan DBD, pasien akan dirujuk ke fumah sakit karena puskesmas tidak dilengkapi dengan peralatan pemeriksaan darah yang memadai,” jelasnya.
Dia juga menambahkan, mengingat peningkatan kasus DBD saat ini, pihaknya tak henti-hentinya melakukan advokasi kepada stakeholder dan masyarakat tentang penanganan dan pencegahan penyakit DBD tersebut.
Selain melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), mendorong masyarakat untuk menerapkan 4M Plus guna mengurangi populasi jentik nyamuk.
“Kami juga menyediakan serbuk abate secara gratis di puskesmas atau melalui kader posyandu,” pungkasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor; Aas Arbi











