SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten menggelar kegiatan bertajuk Kenduri Budaya Nusantara, Banten untuk Kemenangan Indonesia.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan atau yang sering dikenal dengan munggahan dan dilaksanakan serentak di sembilan titik di pulau Jawa.
Kesembilan titik lokasi yang dipilih untuk pelaksanaan kegiatan yakni, Banten, Jakarta Utara, Cirebon, Pekalongan, Tuban, Rembang atau Lasem, Lamongan, Sidoarjo dan Situbondo yang mana merupakan jalur Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa.
Ada berbagai kegiatan yang menjadi rangkaian acara Kenduri Budaya Nusantara, yang diawali dengan pelaksanaan doa bersama, dialog kebudayaan dan pentas seni khas Banten.
Ketua Lesbumi PWNU Banten, Aristho mengatakan, pelaksanaan Kenduri Budaya Nusantara merupakan bentuk luapan rasa syukur karena bisa kembali menikmati bulan Ramadan di tahun ini.
Selain itu pelaksanaan doa bersama juga diharapkan mampu memberikan nilai-nilai positif khususnya pasca pelaksanaan Pemilu 2024.
“Diharapkan kegiatan ini bisa memberikan doa positif setelah kita hajatan besar, bahwa kita harus menata kembali indonesia ini dengan semangat dan spirit bersama,” katanya saat ditemui usai pelaksanaan Kenduri Budaya Nusantara, Minggu 10 Maret 2024 dini hari.
Ia mengatakan selain pelaksanaan doa bersama, dalam kegiatan Kenduri Budaya Nusantara juga digelar kegiatan dialog kebudayaan yang diisi oleh tiga narasumber yakni Kanjeng Sultan Banten Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja, KH Imaduddin Ustman Al Bantani dari LBM PBNU dan satu orang pemateri lainnya dari Banten Heritage.
“Bahwa doa itu harus terus dilakukan, diselingi dengan dialog budaya supaya tidak tercabut kebantenannya,” tegasnya.
Menurutnya, dari pelaksanaan diskusi tersebut, didapati diskursus mengenai Banten merupakan wilayah yang istimewa. Dimana keistimewaan tersebut terlihat dari berbagai kriteria.
“Kita pernah menjadi sebuah kesultanan yang berdaulat penuh. Kemuduian kita mempunyai budaya adiluhur seperti teknologi air, pergaulan internasional sampai mempunyai mata uang sendiri, bahwa itu bukti kedaulatan dan keistimewaan Banten,” jelasnya.
Menurutnya, keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki Banten pada masalalu tersebut harus diketahui oleh seluruh masyarakat Banten sehingga menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membangun Banten.
“Sebagai daerah maritim terbuka, terbuka untuk segala peluang, jangan sampai kita penduduk lokal itu menjadi objek. Paling tidak walaupun kita tidak menjadi subjek, kita bersama-sama ikut membangun Banten dari nilai-nilai yang sudah dilakukan oleh leluhur kita,” jelasnya.
Ia pun berharap, keistimewaan-keistimewaan Banten di masalalu itu dihaparkan dapat dijaga oleh masyarakat Banten sehingga nantinya keistimewaan itu dapat menjadi triger sehingga keistimewaan tersebut dapat dilegitimasi.
“Nilai-nilai plus suatu daerah itu harus dilegitimasikan dalam sebuah hak istimewa kira-kira begitu. Bahwa kehadiran Banten itu memang diakui, bahwa kita bagian dari NKRI yang dulunya adalah kesultanan. Banten yang membangkitkan kembali salah satu inspirasi kemerdekaan itu tentang apa yang terjadi sebuah kedaulatan pernah terjadi di Banten satu indikator itu saja sudah menjadi nilai yang istimewa,” pungkasnya.
Sementara itu, Kanjeng Sultan Banten Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja mengatakan, budaya merupakan jati diri sebuah bangsa. Untuk itu, masyarakat harus mau menjaga nilai-nilai budaya yang ada di sekitar agar jati diri bangsa tidak hilang.
“Mari kita tunjukan jati diri kita sebagai bangsa, khususnya sebagai orang Banten. Di Banten ini ada banyak wilayah dan memiliki ciri khas masing-masing,” jelasnya.
Menurutnya, dahulu Banten menjadi sebuah daerah yang istimewa dimana Banten dahulu selalu ditunggu oleh setiap kerajaan. Bahkan munculnya Sultan Banten selalu ditunggu oleh semua pihak sehingga menjadikannya sebagai daerah istimewa.
“Namun kini secara kultur budaya sudah luntur. Buktinya apa? Negara kita sekarang gampang diobok-obok oleh negara lain,” jelasnya.
Untuk itu, perlu adanya sosok-sosok pemuda yang menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur budaya dna meiliki jati diri bangsa yang kuta sehingga nantinya mampu membawa Banten kembali ke masa keemasannya.
“Selain itu pemuda juga perlu belajar ilmu pengetahuan lebih luas lagi, teknologi informasi, adat budaya, ini yang harus kita kembangkan dan junjung tinggi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Aditya










