SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sebanyak 56 Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten mengikuti sertifikasi kompetensi penanggulangan bencana yang diadakan di Training Center, Pusdiklat PB BNPB, IPRC, Bogor, Senin, 29 April 2024.
Kepala Pelaksana BPBD Banten, Nana Suryana, mengatakan, sedikitnya terdapat 56 relawan BPBD Banten mengikuti pelatihan dan uji kompetensi yang digelar selama enam hari itu.
Diklat tentang kaji cepat bencana dan sertifikasi adalah salah satu langkah penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan instansi terkait dalam menghadapi bencana alam.
“Bencana alam merupakan ancaman serius bagi kehidupan manusia, serta dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan ekonomi yang besar. Oleh karena itu, penting untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam menghadapi berbagai jenis bencana alam,” ujar Nana, Senin, 29 April 2024.
Diklat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai jenis bencana alam, termasuk gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, dan lain sebagainya.
Peserta akan dibekali dengan pengetahuan tentang faktor-faktor penyebab bencana, serta cara-cara untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merespons bencana dengan cepat dan efektif.
“Selain itu, diklat ini juga akan membahas tentang pentingnya perencanaan dan persiapan sebelum terjadinya bencana, serta tindakan tanggap darurat yang perlu dilakukan selama dan setelah bencana terjadi,” katanya.
Selain materi tentang kaji cepat bencana, diklat ini juga akan memberikan sertifikasi kepada peserta yang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan dan ujian. Sertifikasi ini akan menjadi bukti bahwa peserta telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam menghadapi bencana alam, serta siap untuk bertindak secara profesional dalam situasi darurat.
“Dengan adanya sertifikasi ini, diharapkan peserta dapat lebih percaya diri dan diakui oleh masyarakat dan instansi terkait sebagai tenaga ahli dalam bidang kesiapsiagaan bencana,” tuturnya.
Selama diklat berlangsung, peserta akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan praktis, seperti simulasi evakuasi, latihan pertolongan pertama, dan diskusi kelompok tentang strategi mitigasi bencana.
Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta, sehingga mereka dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka pelajari dalam situasi nyata.
Selain itu, diklat ini juga akan melibatkan para ahli dan praktisi yang memiliki pengalaman dalam penanggulangan bencana alam sebagai instruktur. Mereka akan berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka kepada peserta, serta memberikan wawasan tentang praktik terbaik dalam menghadapi bencana alam.
“Keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan masyarakat umum, sangatlah penting dalam keberhasilan pelaksanaan diklat ini. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama yang erat antara semua pihak terkait dalam mendukung penyelenggaraan diklat ini, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil,” ungkapnya.
Dengan mengikuti diklat tentang kaji cepat bencana dan sertifikasi ini, diharapkan peserta dapat menjadi agen perubahan dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana alam di wilayah Banten.
“Dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, mereka akan mampu memberikan kontribusi yang berarti dalam melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak bencana alam yang tidak terhindarkan,” pungkasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











