SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa ekonomi syariah dibangun untuk memberdayakan umat dan mendorong umat supaya membangun ekonomi nasional.
“Karena kita amati selama ini bahwa umat Islam banyak tertinggal di bidang ekonomi, boleh jadi ini akibat daripada salah memahami ajaran agama karena menganggapnya dunia itu tidak penting, yang penting itu akhirat. Itu mungkin salah, seperti itu, ya padahal kita ingin membangun akhirat juga dengan membangun dunia,” ungkap Wapres pada acara Silaturahmi IdulFitri 1445 H Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Banten, Peluncuran Batik Motif Tanara, dan Kick-Off Program Minimart Pesantren di Pesantren An-Nawawi Tanara, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Sabtu, 4 Mei 2024.
Turut hadir Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Wury Ma’ruf Amin, Pj Gubernur Banten Al Muktabar, Pj Sekda Pemprov Banten Virgojanti, Ketua KDEKS Banten Siti Ma’rifah dan pengurus, Pengasuh Pesantren An-Nawawi Tanara, KH Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin, perwakilan ormas Islam dan pengusaha.
Dalam konteks ekonomi dan ajaran agama, Wapres mengutip hadis sebagai mana ditafsirkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani.
Wapres mengungkapkan, Syekh Nawawi al-Bantani menafsirkan dua buah hadis yang bisa saja menjadi sebab orang takut mencari dunia. Pertama, ungkapan hadis yang mengatakan siapa yang mencintai dunianya, membahayakan akhiratnya.
“Dan cinta dunia akhiratnya bahaya. Jadi orang takut, lebih baik cari akhirat daripada dunia,” ungkapnya.
Yang kedua ada hadis yang berbunyi bahwa cita dunia itu sumber kesalahan. Dalam kaitan ini, Syekh Nawawi mengatakan, siapa yang mencintai dunia bahaya akhiratnya dan ungkapan Imam Hasan Basri, yang merupakan hadis mursal.
“Mencintai dunia sumber daripada kesalahan, kata Syekh Nawawi, yang dimaksud cinta yang membahayakan dunia dan sumber kesalahan, cinta yang membawa kepada tindakan melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang,” jelas Wapres.
“Karena dia cinta ke dunia, akhirnya yang dilarang dikerjakan karena untuk dunia.
Atau menyia-nyiakan perintah. Perintahnya diabaikan karena dunianya. Itu yang dimaksud,” lanjutnya.
Wapres menjelaskan, jika murni cinta semata mata proporsional, tidak melanggar apa-apa, itu bagian daripada watak kemanusiaan Itu manusiawi, tidak masalah, yang penting tidak melakukan larangan dan menyia-nyiakan perintah. “Jadi diluruskan oleh Syekh Nawawi pemahaman yang keliru. Itu saya kira,” ungkapnya.
Dalam keterangan yang lain, kata Wapres, Syekh Nawawi mengatakan, ijtihad dalam mencari rezeki dengan tetap menjalankan hak hak Allah Subhanahuwata’ala, semuanya dijalankan, tanpa menyia-nyiakan kewajibannya, itu jihad besar. Jadi mencari rezeki tapi tetap di jalan yang benar, itu jihad, perjuangan besar,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Wapres mengungkapkan rasa kekhawatirannya terhadap orang yang mencari dunia tetapi tidak tahu halal dan haram, semua ditabrak.
“Orang mencari dunia kemudian lupa salat, salat ditinggalkan karena mencari dunia, tidak sempat ngaji . Tidak ada waktu buat ngaji. Itu namanya mencari dunia ke dunia , seperti orang terjebak ke dalam sarang laba laba . Ia muter saja di situ dari pagi hingga subuh. Padahal mestinya pagi setelah subuh itu ngaji dulu, baru mencari rezeki. Zuhur salat, mencari rezeki lagi, malam ngaji lagi. Itu saya kira, yang Syekh Nawawi bilang jihad,” ungkap Wapres
Bahkan ada hadis yang mengatakan bahwa barang siapa yang keluar dari rumah, mencari rezeki untuk keluarganya dan untuk anaknya maka jihad di jalan Allah. Tapi mencari dunia untuk memperbanyak-banyak dunia dan kebanggaan-banggaan dunia, kehebat hebatan, itu yang di jalan syetan.
“Jadi kita itu membangun ekonomi masyarakat supaya masyarakat kita, umat Islam jangan menjadi orang-orang duafa, tapi menjadi orang-orang yang kuat, yang hebat dan berjaya, bisa menguasai ekonomi seperti masa masa yang lampau,” ungkapnya.
Wapres menegaskan, ekonomi syariah itu untuk membimbing masyarakat supaya jangan berekonomi dengan cara yang tidak sesuai dengan syariah.
“Mungkin ini juga banyak orang yang tidak mau berekonomi, berkegiatan karena dianggapnya tidak sesuai syariah maka kita bangun ekonomi syariah supaya dia jalan di atas ekonomi syariah,” katanya.
Reporter: Aas Arbi
Editor: Aditya











