LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Seiring berjalannya waktu, jumlah kasus diabetes di Kabupaten Lebak mengalami perkembangan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mencatat, selama periode Januari hingga April 2024, hanya terdapat 3.623 kasus diabetes yang dilaporkan.
Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan mayoritas kasus menimpa warga usia produktif dan lansia.
Budhi Mulyanto, Plt Kepala Dinas Kesehatan Lebak, menyampaikan bahwa pada tahun 2022 terdapat 14.839 kasus diabetes, yang kemudian mengalami penurunan menjadi 13.226 kasus pada tahun 2023.
“Selama bulan Januari hingga April 2024, jumlah kasus diabetes mencapai 3.623. Alhamdulillah, pada tahun ini belum terdapat kasus diabetes baru pada anak-anak,” ujarnya kepada para wartawan pada Selasa, 28 Mei 2024.
Ia menerangkan bahwa diabetes tipe 1 disebabkan oleh disfungsi pankreas dalam memproduksi hormon insulin. Hal ini mengakibatkan kekurangan insulin dalam tubuh, yang memerlukan suplai dari luar, seperti suntikan insulin.
“Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena disebabkan oleh reaksi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel penghasil insulin di pankreas,” terangnya.
Diketahui, diabetes tipe 2 adalah kondisi di mana tubuh mengalami resistensi terhadap insulin, menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling umum terjadi.
“Insulin adalah hormon yang membantu tubuh mengatur kadar gula darah dengan membantu glukosa masuk ke dalam sel-sel tubuh. Pada diabetes tipe 2, tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif,” tambahnya.
Lebih lanjut, Budhi menyoroti prevalensi diabetes tipe 2 di seluruh dunia, di mana satu dari 11 orang dewasa diperkirakan menderita diabetes, dengan 90 persen di antaranya menderita diabetes tipe 2.
“Sekitar 90 persen kasus diabetes di dunia adalah diabetes tipe 2. Meskipun demikian, di Lebak, kasus diabetes cenderung lebih sering terjadi pada dewasa dan remaja,” ungkapnya.
Diketahui, faktor risiko diabetes tipe 2 termasuk predisposisi genetik, obesitas, pola makan yang tidak sehat, dan gaya hidup yang kurang aktif.
“Pencegahan dan pengobatan diabetes tipe 2 melibatkan adopsi gaya hidup sehat, termasuk pola makan yang seimbang dan aktifitas fisik yang cukup, serta penggunaan obat atau insulin jika diperlukan,” tambahnya.
Budhi menyebutkan, faktor risiko diabetes tipe 2 termasuk predisposisi genetik, obesitas, pola makan yang tidak sehat, dan gaya hidup yang kurang aktif.
“Sambil menjalani pengobatan, penting bagi pasien diabetes untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin dan mengontrol kadar gula darah mereka,” pungkasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











