SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Dalam rangka memperingati Hari Kependudukan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan 100.000 akseptor KB pascapersalinan di seluruh Indonesia. Program ini dipusatkan di Provinsi Banten, Senin 29 Juli 2024.
Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam penggunaan alat kontrasepsi setelah melahirkan, sebagai upaya menekan angka kelahiran dan mendukung kesehatan ibu serta anak.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten Rusman Effendi menyatakan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai target keluarga sejahtera dan berkualitas. Di Banten, pelayanan akaeptor KB ini akan dilakukan disemua daerah hingga ketingkatan Posyandu.
“Kami berharap dengan adanya program ini, para ibu yang baru melahirkan dapat segera menggunakan alat kontrasepsi sehingga bisa merencanakan kehamilan berikutnya dengan lebih baik. Ini juga merupakan langkah penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi,” ujar Rusman.
Program KB pascapersalinan ini akan difokuskan pada fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. BKKBN juga akan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk tenaga medis dan kader posyandu, untuk memastikan program ini dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran.
“Selain memberikan alat kontrasepsi, kami juga akan memberikan edukasi kepada para ibu mengenai pentingnya perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi. Kami berharap para ibu dapat memahami manfaat dari penggunaan KB pascapersalinan ini,” tambah Rusman.
Dalam pelaksanaan program ini, BKKBN akan menyediakan berbagai jenis alat kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing ibu. Alat kontrasepsi yang disediakan meliputi pil KB, suntik, implan, dan IUD (Intrauterine Device).
Dengan target 100.000 akseptor KB pascapersalinan, BKKBN berharap dapat memberikan kontribusi signifikan dalam menekan angka kelahiran di Indonesia serta meningkatkan kualitas hidup keluarga-keluarga Indonesia. Program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam upaya pengendalian kependudukan dan peningkatan kesehatan masyarakat.
“Program ini sangatlah penting guna pencegahan stunting, karena salah satu penyebab stunting itu dari keluarga-keluarga yang beresiko 4 T yaitu terlalu banyak anaknya, terlalu muda melahirkan, terlalu rapat kelahirannya, dan terlalu tua. Untuk menghindari terlalu terlalu inilah peran bagaimana agar pasangan subur ini mengatur kelahirannya dengan menjadi akseptor,” pungkasnya. (*)
Reporter: Yusuf
Editor: Agung S Pambudi











