SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Memasuki musim kemarau, kondisi aliran sungai Ciujung khususnya di Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang berubah warna. Air sungai yang biasanya coklat menjadi hitam.
Kondisi itu dikeluhkan warga sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan pesisir. Mereka mengalami kesulitan mencari ikan. Belum lagi, air juga menimbulkan reaksi gatal ketika terkena kulit.
Pantauan di lokasi, terlihat kondisi air sungai Ciujung berwarna hitam. Bahkan ada cairan-cairan berkilauan di permukaan air yang tampak seperti minyak.
Di perbatasan antara daratan dan air sungai, terlihat adanya perbedaan warna yang mencolok antara tanah yang tidak terkena air sungai yang berwarna kecoklatan. Sementara, kondisi tanah yang sudah terkena air berwarna kehitaman.
Selain air yang berwarna hitam, bau menyengat juga tercium dari arah sungai. Aroma menyengat itu semakin menguat ketika adanya angin yang berhembus menuju pemukiman warga.
Kondisi itu pun menjadi salah satu hal yang dikeluhkan warga karena membuat lingkungan mereka menjadi tidak nyaman.
Suardi, seorang warga Tengkurak mengaku terjadinya perubahan warna di Sungai Ciujung telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Namun kondisi semakin parah ketika ketika dua bulan terakhir.
“Paling parah satu bulan terakhir ini jadi kondisinya hitam dan berbau. Belum lagi kalau misalkan kena kulit gatal-gatal jadi ga bisa dimanfaatkan warga,” katanya saat ditemui di lokasi, Jumat 23 Agustus 2024.
Pria yang berprofesi sebagai nelayan pesisir itu mengaku, menghitamnya aliran Sungai Ciujung turut berdampak terhadap pendapatannya sebagai nelayan.
Pasalnya, menghitamnya Sungai Ciujung juga mengakibatkan pantai tempat ia mencari ikan ikut menghitam. Sehingga membuat nelayan-nelayan kecil kesulitan mencari ikan.
“Sulit cari ikan, ke tengah juga susah karena air hitam ini juga ke tengah, kurang lebih sampai 3 kilometer dari bibir pantai. Nelayan kecil kan nyari ikannya di pinggir pantai, jadi kesusahan,” ungkapnya.
Ia mengaku, biasanya mendapatkan ikan kurang lebih sebanyak 20 kilogram per hari ketika kondisi air laut normal. Namun, karena adanya pencemaran, pendapatannya merosot hingga lebih dari 50 persen.
“Hari ini aja cuman dapat 5 kilogram, dijual ya cuma dapet Rp50 ribu. Buat bensin aja abis Rp20 ribu, belum buat rokok. Jadi kadang nombok,” terangnya.
Kendati demikian, pihaknya terpaksa harus tetap melaut guna pemenuhan kebutuhan sehari-hari. “Kita berharap dikurangin lah limbah yang dibuang ke sungai, karena ini tempat mata pencaharian kami,” tegasnya.
Sementara itu, Kasi Pemerintahan Desa Tengkurak, Fahrudin mengatakan, menghitamnya air di Desa Tengkurak membuat warganya kesulitan karena tidak bisa memanfaatkan air sungai.
“Biasanya memanfaatkan air sungai, sementara sekarang sudah menghitam dan berbau. Sekarang warga yang di bantaran biasanya ke tempat saudaranya numpang mandi atau cuci, ke yang punya sumur bor,” katanya.
Ia pun berharap, selama kondisi air sungai menghitam, ada bantuan air bersih dari pihak-pihak terkait baik pemerintah ataupun dari pihak swasta. “Selain itu semoga ada kompensasi terhadap para nelayan yang terdampak. Juga semoga ada CSR dari perusahaan untuk membantu warga,” pungkasnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











