PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID-Puluhan mantan Napiter yang tergabung dalam Koperasi Bina Insaf Mandiri mulai memetik buah kopi Arabika di Puncak Gunung Karang tepatnya di Desa Kaduengang, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang.
Buah kopi Arabika dipetik dari pohon hasil tanam oleh para mantan Napiter bersama petani penggarap warga Desa Kaduengang, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang.
Mantan Napiter dan juga selaku Ketua Koperasi Bina Insaf Mandiri Badri Wijaya mengatakan, puluhan mantan Napiter yang tergabung dalam Koperasi BIM sepanjang tahun 2021-2022 telah menanam kopi sebanyak 100 ribu batang di Puncak Gunung Karang.
“Dari jumlah 100 ribu batang bibit pohon kopi yang tumbuh sampai tahun 2024 ini sebanyak 60.000 batang pohon,” katanya, Kamis 24 Oktober 2024.
Sementara sisanya sebanyak 40 ribu batang pohon itu tidak tumbuh atau mati. Proses penanaman sendiri dilakukan oleh para mantan Napiter bersama dengan para petani warga setempat yang sebelumnya sudah lebih dulu sebagai penggarap lahan.
“Kami bersama petani setempat secara bersama-sama merawat tanaman kopi dengan memberikan pupuk. Serta secara berkala dilakukan pembersihan rumput liarnya,” katanya.
Memasuki bulan Juli 2024 atau usia tanaman kopi sudah 3-4 tahun barulah mulai memetik hasil. Tanaman kopi ditanam pada tahun 2021 dan 2022 sudah mulai berbuah.
“Namun memang belum lebat. Buahnya masih sedikit,” katanya
“Jumlah pohon tumbuh normal saat ini sekitar 40.000 batang pohon dari 60 ribu pohon tumbuh. Dan dari jumlah 40 ribu itu yang produktif tidak sampai 10.000 pohon,” katanya.
Pohon produktif ini yang sekarang ini mulai berbunga dan berbuah. Sedangkan puluhan ribu pohon lain masih dalam pemantauan.
“Kita pantau, dan apabila nanti tidak berbuah setelah diberikan pupuk maka akan diganti dengan tanaman baru,” katanya.
Adapun untuk merawat pohon agar tumbu subur saat ini menggunakan pupuk organik yang disiasati oleh Profesor Edi. Syukur alhamdulillah ini perkembangannya jauh sekali, pohon tumbuh subur dan daunnya kelihatan hijau segar.
“Berbeda sekali dengan pohon kopi yang belum diberikan pupuk organik. Dan kami dari BIM untuk selalu berkomitmen menggunakan pupuk organik karena kalau bukan pupuk organik Kondisi Gunung Karang ini kan sudah kritis, jadi khawatir akan semakin rusak lagi kalau pakai pupuk kimia,” katanya.
Makanya, Ibad menegaskan, BIM, sedikit-sedikit bagaimana berupaya meskipun hasilnya itu nol koma nol sekian persen tapi bagaimana berusaha menjaga kelestarian alam ini dengan menggunakan pupuk organik.
“Yang bahan-bahannyapun diambil dari lingkungan sekitar Gunung Karang ini baik dari dedaunan dan lain sebagainya hanya saja menggunakan limbah PLTU,” katanya.
Hasil treatmen menggunakan pupuk organik luar biasa. Pohon kopi mulai berbunga lebat.
“Penggunaan pupuk organik juga bisa menjadi pengendali penyakit. Mudah mudahan apa yang kita kerjakan membuahkan hasil sesuai yang kita harapkan,” katanya.
Ibad menerangkan, menanam kopi ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan mantan napiter dan juga petani setempat. Sebab nanti akan ada bagi hasil dari setiap panen kopi.
“Kopi hasil tanam kita petik, jemur, dan giling. Saat ini kita sudah punya rumah produksi,” katanya.
Sekalipun sudah memproduksi sendiri, akan tetapi sementara ini belum diberikan brand merek. Masih dalam tahap pengajuan.
“Namun yang jelas nanti kita punya merek sendiri. Yang tentunya kita akan bawa nama Gunung Karang karena tidak akan meninggalkan histori dari Gunung Karang dan Banten,” katanya.
Reporter: Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











