SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII menggelar kegiatan bertajuk Wates Lengkah di Aula Halwany Michrob, Kota Serang, Senin, 9 Desember 2024. Acara ini bertujuan mewujudkan kebudayaan inklusif, terutama bagi perempuan dan penyandang disabilitas.
Wates Lengkah yang dalam bahasa Sunda berarti “Batas Langkah,” diangkat dari keresahan terkait keterbatasan fisik yang kerap dialami perempuan dan disabilitas dalam berkarya. Acara ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Disabilitas Internasional dan Hari Ibu, berlangsung selama 13 hari, 9–21 Desember 2024, pukul 09.00–15.00 WIB.
Beragam karya seni ditampilkan, seperti lukisan, batik dengan motif gerabah ekskavasi Banten Lama, tenun Baduy, gerabah Desa Bumijaya, kriya, pertunjukan angklung, pantomim, tari, band, dan vokal solo. Selain itu, tersedia workshop pembuatan gerabah dan lukis wastra.
Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Fitra Arda. Hadir pula sejumlah tokoh, di antaranya Kepala BPK Wilayah VIII Lita Rahmiati, Ketua LSP P2 Kebudayaan Sri Hartini, perwakilan instansi budaya, serta siswa dan guru Sekolah Khusus se-Provinsi Banten.
Dorong Kesetaraan dalam Kebudayaan
Dalam sambutannya, Fitra Arda menekankan pentingnya membuka ruang yang setara di bidang pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan.
“Melalui peringatan Hari Disabilitas Internasional dan Hari Ibu, kami ingin mendorong kesetaraan bagi semua, termasuk penyandang disabilitas. Mereka harus diberi ruang untuk terlibat dalam merancang kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan bangsa,” ujar Fitra, Senin 9 Desember 2024.
Ia juga menegaskan perlunya memperkuat ruang berkarya bagi disabilitas, sesuai amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Kepala BPK Wilayah VIII, Lita Rahmiati, menyampaikan bahwa kebudayaan bukan hanya milik budayawan, tetapi juga semua orang yang berkontribusi pada pemajuannya.
“Aula BPK Wilayah VIII menjadi pionir ruang inklusif untuk menampilkan karya siswa sekolah khusus dan menyambut Hari Ibu. Wates Lengkah adalah inisiatif untuk merenungkan hubungan antara disabilitas dan kebudayaan, sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkarya,” jelasnya.
Karya seni yang dipamerkan mencerminkan keberanian berekspresi tanpa batas, mulai dari instalasi seni, seni tekstil, hingga replika Mahkota Sultan Banten dan Panji Debus Kesultanan Banten.
Kegiatan ini bertujuan mengubah pandangan masyarakat terhadap disabilitas dan perempuan, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesetaraan, serta mendorong pengambil kebijakan untuk memperhatikan aspek aksesibilitas dalam kebudayaan.
Melalui acara seperti Wates Lengkah, BPK Wilayah VIII berharap dapat menciptakan ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan bagi penyandang disabilitas dan perempuan.
“Karya mereka tidak hanya patut dihargai, tetapi juga membuka peluang di berbagai bidang kerja,” tutup Fitra.
Editor: Bayu Mulyana











