TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Pemkot Tangsel melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) sedang melakukan penjajakan kerja sama dengan pihak swasta yang memiliki lahan luas untuk dijadikan venue cabang olahraga untuk pagelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Banten 2026 di Kota Tangsel.
Kepala Dispora Tangsel, Mursinah menyatakan, kendala yang dihadapi Pemkot Tangsel dalam mempersiapkan venue olahraga adalah keterbatasan lahan, sehingga kerja sama dengan swasta yang memiliki lahan luas diperlukan guna menyiasati keterbatasan lahan tersebut.
“Kami sedang melakukan penjajakan dengan pihak swasta yang memiliki cukup lahan luas untuk dijadikan venue cabang olahraga. Sejauh ini beberapa pihak swasta menyanggupi,” ujar Mursinah, Rabu, 12 Februari 2025.
Menurut Mursinah, terkait kepastian kepan disepakatinya kerja sama dengan pihak swasta, pihaknya masih harus membahasnya secara komprehensif dengan dinas terkait dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tangsel.
“Kan sedang dibentuk panitia besar ya, ada Bapelitbangda dan dinas lain. Nanti kalau sudah terbentuk panitia besar, pak Walikota yang menentukan siapa mengerjakan apa,” jelasnya.
Ketua KONI Kota Tangsel, Hamka Handaru, mengatakan, sampai saat ini Pemkot Tangsel baru membangun lima venue dengan cabang olahraga seperti tenis, sepak bola, base ball, air soft ball. Sementara, kebutuhan venue olahraga Porprov Banten 2026 mencapai puluhan venue.
“Yang disiapkan baru ada lima tempat, salah satunya di indoor multifunction belakang kantor KONI Tangsel di PCC, di Alam Sutera dan ada beberapa lapangan yang di-upgrade,” ujar Hamka, beberapa waktu lalu.
Hamka mengatakan, jumlah venue yang baru dibangun masih sangat kurang.
Menurutnya, kendala yang dihadapi adalah ketersedian lahan di Tangsel yang sangat sempit.
“Penutupan Porprov Banten 2025 itu kalau idealnya kan membutuhkan tempat kurang lebih 30 sampai 40 venue. Itukan waktunya berbarengan. Tapi tidak semuanya kita buat. Kita rasional, tidak memaksakan Pemkot Tangsel membuat semua. Karena kita paham sama kondisi lahan yang terbatas,” ujarnya.
Editor: Agus Priwandono











