Oleh : DR. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
Rahmatan Lil ‘Alamin
Islam adalah agama rahmat, artinya bahwa Islam adalah agama yang dapat memberikan kerahmatan bagi semua, tidak hanya bagi lingkungan sosial saja tetapi juga lingkungan fisik, tidak hanya bagi micro-cosmos saja, tetapi juga macro cosmos. Bahkan, kerahmatan Islam ini tidak hanya bagi umat Islam saja, tetapi juga seluruh umat manusia di jagat raya ini.
Islam adalah agama rahmat untuk semua, maka segala bentuk ketimpangan dan kerusakan di alam semesta ini harus dihindarkan, termasuk kerusakan di darat, laut maupun udara yang disebabkan oleh ulah manusia. Dan ini merupakan tanggung jawab setiap manusia yang menyatakan dirinya sebagai muslim. Dengan demikian, segala bentuk kekacauan, ketimpangan dan kerusakan di alam ini bertentangan dengan Islam.
Agama Islam sebagai agama damai dan cinta kepada kedamaian. Oleh sebab itu, setiap muslim mesti mencintai suasana damai, dan menolak kekerasan dan kekacauan. Sesungguhnya agama yang benar menurut Allah Swt adalah agama yang damai, yang menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Dengan demikian tujuan puasa, diharapkan spiritualitas Ramadan ini tidak hanya identik dengan umat Islam, tetapi juga umat agama lainnya juga memiliki karakteristik tersendiri dalam bentuk tradisi maupun spiritual selama bulan Ramadan. Sekalipun di antara mereka tidak menjalankan puasa, akan tetapi mereka turut serta dalam mewarnai spiritualitas bulan Ramadan.
Ramadan adalah bulan yang sangat mulia. Bulan yang terlimpah segala nikmat, rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Ada banyak pelajaran dan manfaat yang dapat kita petik dari berpuasa dibulan ramadhan. Selain mendidik kita untuk berempati pada kaum miskin dengan berlapar-lapar selama seharian, mendidik hidup sehat, pentingnya ibadah dengan ikhlas, puasa juga mendidik kita untuk bersikap toleran.
Secara tegas, Al-Qur’an menyuruh kita untuk berpuasa namun diberikan rukhshah atau keringanan bagi mereka yang tidak kuasa untuk berpuasa dibulan ramadhan seperti orang yang sedang sakit, musafir, haid bagi perempuan dan sebagainya. Betapa Al-Qur’an sangat mendidik kita untuk beribadah dengan mudah tanpa memberatkan. Al-Qur’an sangat menjunjung tinggi semangat toleransi.
Puasa secara totalitas bertujuan melatih orang untuk menahan hawa nafsu. Seseorang berpuasa pada tahap awal berlatih menahan lapar, dahaga, dan hasrat seksual. Kemudian orang yang puasa diharapkan dapat menjaga dan mengendalikan panca indra dan semua anggota badannya. Sebagai puncaknya diharapkan setiap orang mampu mempuasakan hatinya. Sebab, hati memiliki fungsi sentral dapat menggerakkan panca indra dan anggota tubuh manusia untuk melakukan dorongan dan kemauan hatinya.
Apabila seseorang telah berhasil mempuasakan hatinya diharapkan secara totalitas manusia terhidar dari sikap, pikiran, dan tindakan yang tercela. Proses yang demikian maka hak asasi manusia menjadi berlaku obyektif. Hak asasi yang mengemuka pada tiap-tiap individu adalah betul-betul lahir dari hati sanubari dan bukan karena dorongan keinginan dan nafsu belaka. Dengan paradigma ini, bukan berarti pola hidup manusia dituntut menjadi seperti malaikat yang tidak punya hajat hidup. Sebagai, manusia tentunya memiliki kebutuhan dan hajat hidup sehingga melahirkan hak asasi manusia. Akan tetapi kebutuhan dan hajat hidup itu terbatas untuk segala sesuatu yang bernilai positif dan memiliki nilai tambah karena lahir dari hati yang jernih dan terang yang setiap tahun dipuasakan di bulan Ramadan.
Solidaritas Sosial
Puasa diharapkan tidak hanya untuk memproduksi kesalehan pribadi yang berpuasa. Lebih dari itu, puasa harus bisa membangun kesalehan sosial, terutama membangun solidaritas dan empati kepada masyarakat; termasuk di dalamnya menjaga kerukunan, baik intern umat beragama maupun antar umat beragama.
Kerukunan umat beragama bangsa Ini bukanlah hal baru. Sikap ramah tamah, gotong royong dan toleransi sudah menjadi karakter sejak zaman nenek moyang dahulu. Ini merupakan wujud nyata dari semangat kerukunan. Sepanjang perjalanan bangsa ini, kita telah melihat kerukunan yang terus tumbuh dan berkembang. Memang terdapat sejumlah gesekan, namun masih dalam batas toleransi dan tidak sampai merusak nilai-nilai kerukunan. Seperti masalah pendirian rumah ibadah maupun ekses dari dinamika politik praktis.
Dalam konteks ini, puasa Ramadan menjadi titik tolak juga sentral kita untuk melatih mengendalikan diri, memahami perasaan orang lain, empati dan simpati, meneladani apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Karena pusat dari seluruh perbuatan manusia bertumpu pada hawa nafsunya. Ketika seseorang melakukan kekerasan, marah dan tindak destruktif lainnya, maka dia sedang dikalahkan oleh hawa nafsunya. Nah, puasa sebetulnya media dan kawah condrodimuko bagi melatih menahan hawa nafsu itu, menguasai dan mengendalikan.
Ramadan harus menjadi momentum untuk kembali menguatkan kerukunan dan solidaritas umat beragama, baik di internal umat beragama, antara umat beragama maupun umat beragama dengan pemerintah. Semua pihak harus menyadari bahwa kerukunan harus dikuatkan demi menghadapi tantangan zaman yang amat berat sekarang ini.
Dalam rangka menjaga spirit puasa Ramadan, maka kita mesti bisa menjaga agar puasa tidak hanya sekadar rutinitas semata, atau sekadar menggugurkan kewajiban perintah agama. Puasa harus menjadi sentral dalam merajut kerukunan umat beragama, agar kehidupan menjadi lebih baik. Kini saatnya menjadikan puasa Ramadan sebagai momentum merajut kasih kepada sesama manusia sebagai sesama hamba Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Semangat toleransi yang tinggi umat Islam dibulan ramadhan juga dapat kita lihat seperti perbedaan dalam penentuan awal Ramadan, jumlah rakaat shalat tarawih, perbedaan-perbedaan doa dan bacaan seputar shalat tarawih, perbedaan lafadz niat puasa dan do’a berbuka hingga penerapan fikih zakat yang kerap menimbulkan perbedaan. Hal tersebut hendaknya dapat disikapi secara arif dan bijak sehingga umat Islam bisa lebih dewasa dan tidak berseteru dalam hal yang bersifat khilafiyah furu’iyah atau perbedaan pendapat dikalangan ulama yang tidak bersifat pokok.
Pendidikan toleransi dalam berpuasa tak hanya sebatas pada internal umat Islam. Toleransi berpuasa juga bersifat eksternal yakni umat Islam dengan non-muslim. Puasa mengajarkan kita untuk suka memberi daripada meminta. Puasa mengajarkan kita untuk suka menghormati daripada minta dihormati. Sikap ketersalingan diantara dua pihak baik sesama muslim atau antara muslim dengan non-muslim sangat diperlukan sehingga nilai-nilai toleransi dapat diterapkan dengan baik. Al-Qur’an melarang kita bersikap ta’ashub atau fanatik buta.
Pada akhirnya kita sama sama berharap di bulan Ramadan tahun ini dan tahun tahun selanjutnya, kehidupan beragama masyarakat dapat bertambah harmonis. Satu sama lain saling menghargai dan menghormati. Dan, bulan puasa benar-benar dijadikan sebagai momentum membangun toleransi.

Penulis Adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.
Editor: Aas Arbi











