TANGERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Badai mirip Covid-19 kembali melanda bisnis perhotelan. Kebijakan efisiensi anggaran oleh pemerintah imbasnya ternyata menyerupai Covid-19.
Kondisi itu dialami Kampleng, warga Pamulang yang bekerja di salah satu hotel bintang 5 di Bandung.
Hotel tempatnya bekerja suasananya ‘anyep’. Nyaris seperti kuburan. Benar-benar sepi. Juga nyaris tidak ada event kegiatan yang menggunakan meeting room.
“Biasanya, kalau PNS ada kegiatan seperti meeting atau rapat, pasti kan banyak juga yang nginap. Ini mah boro-boro event, tamu yang nginep aja ora ada,” pungkasya.
Di hotel tempatnya bekerja di bilangan Pasir Kaliki, Bandung, Jawa Barat, Kampleng yang pulang kampung di kawasan Pamulang mengaku hanya bisa pasrah.
“Untuk forecast bulan April masih kosong. Baik kamar maupun function room. Begini amat yak, anjiir,” keluh pria berperawakan tinggi kecil tersebut.
Sebelumnya, melesunya bisnis di tempatnya bekerja, Kampleng mengaku tidak terlalu ‘ngeh’. Namun, dua bulan setelah omongan atasannya itu, Kampleng baru menyadarinya sekarang.
“Sudah sebulan ini, manajemen memberlakukan kebijakan No DW (day worker alias pekerja harian-red) at all,” tambahnya.
Akibat kebijakan tersebut, maka konsekuensinya manajer atau asmen serta supervisor turun tangan menangani pekerjaan yang biasanya dilakukan para staf. Misalnya, nyuci piring. Atau, buang sampah.
Tanda-tanda lesunya pendapatan hotel mulai dirasakan Kampleng sejak dua bulan lalu. Ditandai dengan minimnya ‘uang service’ yang dia terima.
Untungnya, meski nyaris tidak ada yang menginap, sepanjang Maret 2025 pemasukan hotelnya masih tertolong dengan event buka puasa bersama.
Itu pun jumlahnya tidal terlalu banyak. Dalam sehari pesanan buat iftar bisa mencapai 100 pack hingga 400 pack. Tidak pasti.
“Kalau hotel lain malah lebih parah. Sudah tamu yang nginap zong. Pesanan iftar (buka puasa-red) juga nihil. Bener dah parah banget ini mah, mas,” keluh ayah tiga anak ini.
Tadinya, Kampleng berharap di hari H-7 lebaran banyak tamu yang menginap. Biasanya, orang-orang berduit yang ditinggal mudik pembantunya lebih suka nginap di hotel.
“Temen gua bilang begini, tar dah lo lihat, kalau sudah dekat Lebaran, banyak tamu yang nginap. Parkiran mobil penuh, dah,” kata Kampleng menirukan omongan kawannya yang lebih lebih senior.
“Jumat, 28 Maret 2025 siang, saya lihat orang yang nginap cuma 30 persen. Parkiran juga banyak space kosong. Waduh, nggak beres ini mah,” lanjut pria bertubuh langsing ini.
Jika kondisi begini terus, bukan tidak mungkin akan merembet kepada penurunan gaji. Dan, yang lebih parah lagi akan ada pemutusan hubungan kerja alias PHK. Semoga badai cepat berlalu!
Editor: Agung S Pambudi











