CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Ancaman narkoba di Kota Cilegon masih jadi persoalan serius. Karena itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cilegon tak ingin bergerak sendiri. Lewat Rapat Konsolidasi Kota Tanggap Ancaman Narkoba yang digelar Selasa (16/4) di Aula Setda Kota Cilegon, BNN mengajak berbagai pihak untuk duduk bareng dan cari solusi bersama.
Acara ini dihadiri perwakilan dari kecamatan, kelurahan, hingga sejumlah instansi dan dinas. Tujuannya jelas: membangun sinergi untuk mencegah dan menangani penyalahgunaan narkoba di tingkat lokal.
Kepala BNN Cilegon, Bogie Setia Perwira Nusa, menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menghadapi persoalan narkoba yang makin kompleks.
Ia berharap, ke depan akan terjalin kerja sama berkelanjutan dengan lembaga pendidikan dan keagamaan melalui program Sekolah dan Pesantren Bersinar (Bersih Narkoba).
“Kami melihat peluang sinergi antara program moderasi beragama dari Kementerian Agama dengan upaya pencegahan narkoba, terutama di madrasah,” kata Bogie.
Bogie juga menyebutkan kemungkinan kolaborasi lebih luas, termasuk dengan Densus 88 dalam program deradikalisasi, Kesbangpol, serta Kementerian Agama untuk penguatan langkah preventif.
Salah satu usulan menarik yang muncul adalah ide untuk mengadakan tes urin bagi calon pengantin. Ini dianggap sebagai langkah awal yang penting untuk deteksi dini.
“Langkah ini bisa menjadi gerbang awal deteksi dan pencegahan,” ujarnya.
Dari sisi pemasyarakatan, Kepala Seksi Administrasi dan Keamanan Tata Tertib Lapas Cilegon, Hilman Hilmawan, ikut memberikan gambaran soal kondisi lapas saat ini. Menurutnya, dari total 1.891 warga binaan, sebanyak 1.781 orang terjerat kasus narkoba. Dari jumlah itu, 168 di antaranya adalah warga Cilegon.
Meski jumlah ini menurun dibandingkan tahun lalu—dari 240 orang menjadi 168—Hilman bilang tantangannya belum selesai. Salah satunya adalah masalah residivisme atau napi yang kembali terlibat kasus yang sama.
“Sekitar 20 hingga 30 orang merupakan residivis yang mengulangi tindak pidana narkoba, kebanyakan karena faktor ekonomi dan peran sebagai kurir,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan setelah para napi bebas, agar mereka tak kembali ke dunia narkoba.
“Perlu ada dukungan dari pemkot dan dinas terkait untuk membantu pemetaan serta asesmen pascalapas agar mereka tidak kembali ke jerat narkoba,” tutupnya.
Editor: Merwanda











