SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh keluarga Kepala Desa (Kades) Pedaleman, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, naik ke tahap penyidikan (sidik).
Dalam waktu dekat, penyidik akan melakukan konfrontasi terhadap korban dan pihak yang diduga melakukan penganiayaan.
“Sudah penyidikan, kita rencananya mau konfrontasi antara pelapor dan terlapor. Soalnya, terlapor ini membantah melakukan penganiayaan,” kata Kasatreskrim Polres Serang, AKP Andi Kurniady, Kamis, 29 Mei 2025.
Andi menjelaskan, kasus dugaan penganiayaan yang dialami oleh Saefi (33) warga Kampung Bom, RT 009 RW 003, Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, itu tidak ditemukan saksi. Hanya ada pelapor yang mengaku sebagai korban.
“Saksinya tidak ada, tapi ada visum dari rumah sakit yang jadi alat bukti,” kata pria asal Makassar ini.
Kasus kekerasan tersebut ini berawal dari tantangan duel Kades Pedalemen, Sad’i, yang kepada Saefi.
“Awalnya saya ditantang duel oleh pak Kades,” ujar pelapor, beberapa waktu yang lalu.
Tantangan duel yang terjadi pada Minggu malam, 9 Maret 2025, itu diduga membuat Rizal, anak Sad’i, menjadi emosi.
Rizal lantas menghampiri Saefi bersama pamannya yang dikenal bernama Edoy.
“Baju saya ditarik sama Edoy dan saya ditendang sama Rizal satu kali di bagian paha,” katanya.
Saefi mengaku, ia sempat mencoba membalas Rizal. Akan tetapi, Rizal langsung masuk ke rumahnya.
“Karena warga sudah ramai saya berani ngelawan, pas saya mau lawan, dia (Rizal-red) masuk ke rumah. Kejadiannya di depan rumah pak Kades,” ungkapnya.
Saefi menjelaskan, kasus penganiayaan yang telah dia laporkan ke Polres Serang itu berawal saat dia siaran langsung TikTok.
Siaran yang menyoroti masalah pagar laut di Tanara tersebut dikomentari Rizal.
“Dia terus komen dan ngomongin saya pengecut, awalnya saya enggak mau ke sana,” ungkapnya.
Saefi mengaku dirinya akhirnya mendatangi rumah Rizal. Saat tiba di sana, ia melihat puluhan orang luar dan kerabat Sad’i.
“Saya disuruh masuk ke dalam rumah sama pak Kades, tapi saya enggak mau. Saya lihat banyak orang di sana, ada mungkin 30 sampai 50 orang,” katanya.
Saefi mengungkapkan, saat dirinya menolak tantangan duel Sad’i, ia berteriak.
Teriakan tersebut membuat warga banyak berdatangan ke lokasi.
“Saya teriak kalau kualitas Kades Pedaleman modelnya begitu, saya berani kejar anaknya juga karena kondisi sekitar sudah ramai warga,” katanya.
Saefi juga mengungkapkan, setelah penganiayaan tersebut dia pergi meninggalkan lokasi dan mampir ke tempat kopi yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah Sad’i.
Di sana, Saefi mengaku didatangi adik Sad’i yang dia tidak tahu namanya dan diajak berkelahi.
“Habis itu saya telepon Kanit Reskrim Polsek biar datang ke lokasi,” ungkapnya.
Setelah petugas kepolisian datang ke lokasi, Saefi ke Polres Serang untuk membuat laporan.
Sebelum membuat laporan, dia mengaku telah visum di RS Bhayangkara Polda Banten.
“Pas visum ada biru di paha dan bekas cakaran di dada,” tuturnya.
Kades Pedaleman, Sad’i, belum dapat dikonfirmasi terkait kasus tersebut. Telepon dan pesan singkat RADARBANTEN.CO.ID tidak direspons kendati handphone-nya dalam kondisi aktif.
Editor: Agus Priwandono











