SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Fobia adalah kecenderungan rasa takut berlebihan terhadap sesuatu hak yang biasanya tidak membahayakan.
Ketakutan itu biasanya akan muncul ketika seseorang yang mengidap fobia mengalami situasi tertentu, berada di suatu tempat tertentu atau bahkan melihat hewan-hewan atau benda tertentu.
Fobia bisa dikategorikan pada kondisi gangguan kecemasan, dimana penderitanya biasanya akan berupaya untuk menghindari situasi, kondisi, ataupun objek yang membuat mereka mengalami fobia.
Bahkan apabila terpaksa, mereka juga akan berusaha menghadapi kondisi tersebut sambil menahan rasa takut dan kecemasan yang menghantui mereka.
Fobia sendiri dapat disebabkan oleh banyak faktor, tergantung jenis ketakutan yang timbul. Untuk itu ada beberapa jenis fobia diantaranya ialah fobia spesifik dan fobia komplek.
Fobia spesifik sendiri merupakan jenis fobia yang membuat penderitanya takut terhadap objek, hewan, situasi, atau bahkan aktifitas spesifik. Biasanya fobia akan muncul disaat masa-masa anak-anak ataupun remaja.
Ada beberapa contoh fobia spesifik seperti fobia ketinggian, fobia takut pergi ke dokter gigi, fobia tehadap penyakit, fobia terhadap benda besar, fobia laba-laba, fobia hubungan seks, fobia jarum suntik, fobia air, fobia petir, fobia darah, fobia kegelapan, fobia kuman, hingga fobia terhadap boneka.
Sementara untuk fobia kompleks biasanya berkembang pada saat dewasa. Fobia ini biasanya berkaitan erat dengan ketakutan dan kecemasan terhadap situasi atau kondisi tertentu.
Fobia kompleks sendiri terbagi pada dua jenis yakni Agoraphobia atau rasa takut berada di suatu tempat atau situasi yang membuat penderitanya sulit kabur, atau pada situasi tertentu yang akan menyulitkannya mendapatkan pertolongan.
Lalu ada juga Fobia sosial, dimana rasa takut yang muncul dalam situasi sosial tertentu. Sebagai contoh, penderita bisa takut berbicara di depan orang banyak sehingga tidak berani berbicara di tempat umum.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami fobia, seperti karena mengalami insiden atau trauma tertentu, misalnya takut naik pesawat akibat pernah mengalami turbulensi di pesawat, memiliki anggota keluarga yang fobia.
Lalu, adanya gangguan mental, seperti skizofrenia, depresi, OCD, gangguan panik, PTSD (post-traumatic stress disorder), atau gangguan kecemasan umum. Bahkan memilik orang tua yang over protektif atau yang kurang dekat dengan orang tua bisa menyebabkan fobia.
Selain itu, stres jangka waktu panjang juga dapat menurunkan kemampuan untuk mengatasi ketakutan yang muncul pada situasi atau kondisi tertentu. Lalu, menderita kondisi lain, seperti kecanduan alkohol, kerusakan otak akibat cedera kepala, atau bila pernah menyalahgunakan NAPZA juga dapat menjadi pemicu fobia.
Ada beberapa gejala yang muncul ketika seseorang mengalami fobia, baik gejala fisik maupun gejala mental.
Gejala fisik yang muncul seperti, pusing, sakit kepala, leher terasa tercekik, jantung berdebar kencang, nyeri atau sesak dada, gemetar, keringat berlebih, sesak nafas dan gejala lainnya.
Sementara untuk gejala mental Takut dan cemas berlebihan, linglung, menangis, takut ditinggal sendirian, terutama pada anak-anak serta hilang kendali untuk membedakan kenyataan.
Untuk mengatasi fobia yang dialami, tentunya ada beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti psiko terapi, meminum obat-obatan hingga melakukan program bantuan mandiri dengan merubah gaya hidup, relaksasi, visualisasi dan mengikuti kelompok.
Editor: Bayu Mulyana











