PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Banten dikenal dengan ragam destinasi wisatanya. Tak cuma pantai, provinsi ini juga menyimpan segudang tempat wisata sejarah, budaya, dan alam yang tak kalah menarik.
Wilayah seperti Serang, Lebak, hingga Tangerang punya banyak pilihan untuk dikunjungi, terutama saat akhir pekan.
Radarbanten.co.id kali ini membahas tempat wisata di Banten selain pantai.
Daftar berikut memuat lokasi yang mudah diakses dan menarik untuk dikunjungi.
Berikut rekomendasi tempat wisata di Banten yang bukan pantai tapi tetap seru dan penuh nilai sejarah:
1. Masjid Agung Banten.
Masjid Agung Banten jadi ikon wisata religi yang terletak di kawasan Banten Lama, Kota Serang.
Dibangun sejak abad ke-16, masjid ini masih berdiri kokoh dan ramai dikunjungi peziarah setiap harinya.
Bangunannya punya perpaduan arsitektur lokal, Eropa, dan Tiongkok.
Tak cuma untuk ibadah, pengunjung juga bisa melihat kompleks makam para sultan dan menyelami sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.
Lokasinya strategis dan mudah diakses dari pusat Kota Serang.
2. Benteng Speelwijk.
Masih di kawasan Banten Lama, ada Benteng Speelwijk yang merupakan peninggalan Belanda dari abad ke-17.
Benteng ini jadi salah satu spot wisata murah meriah di Serang yang sarat nilai sejarah.
Suasananya tenang, cocok untuk jalan sore sambil menikmati sisa-sisa dinding benteng yang masih berdiri tegak.
Pengunjung bisa belajar sejarah kolonial sekaligus berburu foto keren dengan latar bangunan bergaya Eropa.
3. Danau Tasikardi.
Danau Tasikardi jadi salah satu destinasi favorit warga Serang. Danau buatan peninggalan Kesultanan Banten ini punya suasana tenang dan adem, cocok banget buat piknik bareng keluarga.
Di tengah danau, ada pulau kecil bernama Pulau Kaputren yang bisa dilihat dari kejauhan.
Pengunjung juga bisa naik perahu kecil keliling danau sambil menikmati panorama alam.
Tiket masuknya murah meriah, cocok buat kamu yang cari wisata hemat di Serang.
Selain danau, kawasan ini juga menyimpan kekayaan ekosistem.
Ada beragam flora fauna, bahkan spesies langka seperti kijang dan lutung juga bisa dijumpai.
Danau ini juga berfungsi sebagai kawasan penyangga air alami yang penting bagi lingkungan sekitar.
4. Perkampungan Suku Baduy.
Kalau kamu pengin liburan yang beda, coba deh ke perkampungan Suku Baduy di Kabupaten Lebak. Suasana di kampung ini bener-bener alami, jauh dari hiruk pikuk modern.
Enggak ada listrik, kendaraan, atau sinyal ponsel. Yang ada cuma ketenangan, alam, dan budaya adat yang masih terjaga.
Berkunjung ke Baduy enggak sekadar jalan-jalan, tapi juga jadi momen refleksi dan belajar hidup selaras dengan alam.
Wisata budaya ini cocok buat kamu yang suka hal-hal autentik dan ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat adat yang masih teguh memegang tradisi.
5. Alun-Alun Kota Tangerang.
Alun-Alun Kota Tangerang jadi tempat favorit buat warga cari udara segar tanpa keluar jauh dari rumah. Lokasinya strategis di pusat kota dan selalu ramai saat sore hari.
Pengunjung bisa olahraga ringan, duduk santai, atau ajak anak main di taman bermain.
Fasilitasnya lengkap, mulai dari jogging track, taman bermain, sampai area istirahat yang nyaman.
Meski gratis, kebersihannya tetap terjaga. Cocok banget buat quality time singkat bareng keluarga.
6. Taman Potret.
Mau wisata yang Instagramable di tengah kota? Coba deh ke Taman Potret yang lokasinya enggak jauh dari Tangcity Mall.
Taman ini punya banyak spot foto kece, seperti patung penari dan jamur raksasa yang jadi favorit anak muda.
Kamu juga bisa jogging atau sekadar duduk santai menikmati suasana taman yang bersih dan tertata rapi.
Gratis masuk, cuma bayar parkir aja. Cocok buat piknik sore hari atau healing tipis-tipis.
7. Taman Gajah Tunggal.
Satu lagi taman kece di Tangerang, yaitu Taman Gajah Tunggal.
Tempat ini cocok banget buat keluarga yang bawa anak kecil. Ada taman bermain, jalur lari, dan pemandangan Sungai Cisadane yang bikin adem.
Warga lokal sering datang ke sini untuk olahraga pagi atau sekadar santai sore.
Lokasinya pun mudah dijangkau dari pusat kota, jadi nggak perlu bingung cari tempat buat refreshing bareng keluarga.
Editor: Agus Priwandono











