PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah pusat sejak awal tahun 2025 belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Pandeglang. Hingga 7 Juli 2025, jumlah warga yang telah mengikuti program ini baru mencapai 15.242 orang. Angka ini masih sangat jauh dari total populasi Kabupaten Pandeglang yang mencapai sekitar 1 juta jiwa.
Program CKG digulirkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini penyakit. Pemerintah menargetkan program ini dapat menjangkau hingga 53 juta anak sekolah di lebih dari 280 ribu sekolah mulai pertengahan Juli 2025. Namun di Pandeglang, pelaksanaan program ini menghadapi kendala rendahnya partisipasi warga.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pandeglang, Samsudin, mengatakan data tersebut merupakan akumulasi dari berbagai fasilitas kesehatan yang telah menjalankan skrining.
“Total sampai 7 Juli 2025, sudah 15.242 warga ikut CKG. Ini data dari Posyandu, Puskesmas Keliling, puskesmas, hingga rumah sakit yang melakukan screening,” kata Samsudin saat dihubungi, Kamis 17 Juli 2025.
Samsudin menjelaskan, masyarakat cukup datang ke fasilitas layanan kesehatan terdekat untuk mengikuti program ini.
“Sisanya tinggal datang saja ke Puskesmas, nanti langsung kita screening,” ucapnya.
Namun demikian, ia menyebutkan masih ada masyarakat yang enggan memanfaatkan layanan ini karena takut mengetahui kondisi kesehatannya.
“Ada yang tahu program ini tapi enggan ikut. Takut ketahuan punya penyakit. Padahal kan lebih baik tahu sejak dini,” jelasnya.
Samsudin menegaskan bahwa layanan CKG ini tidak dipungut biaya, bahkan untuk warga yang tidak memiliki BPJS sekalipun.
“Di puskesmas juga gratis, baik yang punya BPJS atau tidak,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa layanan ini bisa menjadi bentuk perhatian pemerintah, bahkan disebut sebagai hadiah ulang tahun dari Presiden RI.
“Bagi warga yang berulang tahun, program ini disebut sebagai ‘kado ulang tahun dari Presiden RI Prabowo Subianto’,” ujarnya.
Berdasarkan hasil skrining sementara, sekitar 1 persen peserta ditemukan memiliki indikasi penyakit seperti diabetes melitus dan hipertensi. Sementara mayoritas warga yang mengikuti program berada dalam kondisi sehat.
“Kalau ditemukan indikasi penyakit, langsung kita arahkan ke puskesmas. Kalau butuh rujukan ke rumah sakit juga kami bantu,” katanya.
Samsudin berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan bisa meningkat agar penanganan penyakit bisa dilakukan lebih awal.
“Kalau sejak dini tahu, penanganan juga bisa lebih cepat. Setidaknya bisa menekan angka kesakitan,” tutupnya.
Editor : Merwanda











