SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Guru Besar pada Program Pasca Sarjana Universitas Bina Bangsa, Prof. Bambang D. Suseno menanggapi perihal menurunnya Dana Pihak Ketiga (DPK) atau uang simpanan masyarakat diperbankan pada triwullan ke I tahun 2025 ini.
Bank Indonesia (BI) mencatat adanya penarikan dana tabungan oleh warga Banten selama triwulan I tahun 2025 ini. Dengan rincian, pada triwulan I 2025, total DPK tercatat sebesar Rp295,9 triliun, namun pada triwulan II 2025 turun menjadi Rp293,2 triliun. Penurunan ini terjadi pada seluruh jenis DPK, yaitu giro, tabungan, dan deposito.
Bambang menyebut jika kondisi itu masihlah wajar. Hal ini mengingat terdapat beberapa agenda Hari Besar Keangamaan Nasional (HKBN) pada triwulan ke I ini, salah satunya Hari Raya Idul Fitri. HKBN ini tentunya memicu peningkatan konsumsi masyarakat, hingga membuat penarikan dana tabungan.
“Peningkatan pengeluaran untuk kebutuhan pasca-HBKN dan persiapan sekolah seperti SPP, seragam, dan perlengkapan lainnya memicu penarikan tabungan,” kata Bambang, Senin 11 Agustus 2025.
Namun, dirinya juga melihat adanya faktor lain yang jadi pemicu. Seperti portfolio investasi yang bergeser. Katanya, imbal hasil deposito yang rendah mendorong nasabah beralih ke instrumen seperti emas atau logam mulia dan properti. Hal ini terbukti dari peningkatan signifikan penjualan emas dan geliat pasar perumahan di Tangerang Raya
“Lalu, setelah lonjakan belanja saat lebaran, terjadi ‘rebound’ di mana masyarakat berhemat dan menunda pembelian barang tahan lama, sehingga sebagian dana di perbankan ditarik untuk kebutuhan jangka pendek,” ungkapnya.
Menurutnya, melambatnya kredit konsumsi dan penurunan indeks keyakinan konsumen menandakan masyarakat lebih berhati-hati, tetapi daya beli secara umum masih terjaga berkat stabilitas harga dan kondisi ekonomi yang kondusif.
Hal ini tentunya berdampak pada Loan To Deposit Ratio (LDR) Banten yang naik dari 167,88 % menjadi 172,19 %. LDR yang naik mencerminkan penyaluran kredit yang lebih agresif dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga.
“Kenaikan LDR dalam jangka pendek dapat menekan likuiditas bank, meski selama ini pertumbuhan kredit modal kerja menunjang aktivitas pelaku usaha,” tuturnya.
Meskipun demikian, Prof. Bambang menarik garis besar, bahwa penarikan DPK tidak semata menunjukkan krisis daya beli, melainkan kombinasi antara kebutuhan musiman dan pergeseran preferensi investasi. Dirinya melihat, lonsumsi rumah tangga memang melemah relatif, tapi tidak sampai ke level kontraksi; sektor manufaktur, konstruksi, real estate, dan investasi tetap mendorong pertumbuhan ekonomi 5,33 % (yoy).
“Ke depan, stabilitas harga, peningkatan suku bunga deposito, serta penawaran produk investasi perbankan yang lebih menarik dapat memperlambat arus dana keluar dan memperbaiki rasio LDR,” pungkasnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aditya











