LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Nama Tajur yang melekat pada sebuah tanjakan di wilayah Kabupaten Lebak bukanlah tanpa alasan. Tajur merupakan singkatan dari Tanjakan Jurig yang berarti tanjakan setan, sebuah sebutan lokal yang lahir dari banyaknya peristiwa kecelakaan yang terjadi di jalur tersebut. Dari waktu ke waktu, tanjakan ini telah menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat sekitar.
Tanjakan Tajur berada di jalur Sampay–Cileles, tepatnya Desa Curugpanjang, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Lokasinya menjadi penghubung antarwilayah yang cukup ramai dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Namun, meski terlihat biasa, tanjakan ini menyimpan bahaya laten yang kerap mengejutkan pengendara yang melintas.
Sudah tak terhitung banyaknya kecelakaan yang terjadi di jalur maut ini. Mulai dari kecelakaan tunggal akibat kendaraan tak kuat menanjak, hingga tabrakan beruntun yang melibatkan lebih dari satu kendaraan.
Iing warga Kecamatan Cikulur, menuturkan bahwa tanjakan Tajur sudah lama dikenal sebagai jalur maut. Menurutnya, banyak pengendara yang tidak memperhitungkan kondisi jalan ketika melintas. “Jalannya menanjak, curam, dan panjang. Banyak yang tidak siap sehingga kendaraan mundur atau oleng, akhirnya celaka,” ungkapnya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Rabu 20 Agustus 2025.
Ia menambahkan, kondisi jalan yang curam membuat gerak kendaraan terbatas. Jika ada kendaraan besar seperti truk atau bus yang mengalami masalah, otomatis jalur akan macet dan berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi pengguna jalan lainnya. “Kalau sudah begitu, warga sekitar ikut turun tangan membantu agar tidak ada korban lebih banyak,” terangnya.
Ia menambahkan, kondisi jalan yang curam membuat gerak kendaraan terbatas. Jika ada kendaraan besar seperti truk atau bus yang mengalami masalah, otomatis jalur akan macet dan berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi pengguna jalan lainnya. “Kalau sudah begitu, warga sekitar ikut turun tangan membantu agar tidak ada korban lebih banyak,” tambah Iing.
Reza, warga lainnya yang kerap melintasi tanjakan Tajur, menyebut tanjakan tersebut seakan menakutkan bagi pengendara. “Sekilas jalan ini terlihat aman-aman saja. Tapi kenyataannya, butuh keterampilan khusus untuk bisa menaklukkan tanjakan Tajur. Kalau pengendara asal tancap gas tanpa perhitungan, bisa sangat berbahaya,” katanya.
Reza berharap ada langkah lebih serius dari pemerintah untuk mengurangi risiko di tanjakan Tajur, misalnya dengan menambah rambu peringatan, membuat jalur penyelamat, atau memperlebar badan jalan. “Minimal pengendara bisa punya ruang lebih ketika menghadapi situasi darurat,” ujar Reza.
Hingga kini, tanjakan Tajur masih menjadi jalur vital yang tidak bisa dihindari warga maupun pengguna jalan dari luar daerah. Bagi mereka yang sudah terbiasa, kewaspadaan menjadi kunci utama. Namun bagi pendatang yang baru pertama kali melintas, tanjakan ini bisa menjadi jebakan maut jika tidak berhati-hati.
Editor: Abdul Rozak











