JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID — Suasana hangat dan penuh semangat terasa di salah satu hotel kawasan Jalan Thamrin, Jakarta, pada Kamis 21 Agustus 2025. Ratusan peserta dari berbagai provinsi hadir mengikuti ajang Kompetisi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi Penyandang Disabilitas Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Kompetisi tahunan ini mempertemukan para juara dari empat wilayah regional—Solo, Bali, Medan, dan Makassar untuk unjuk kemampuan di bidang content creator, digital marketing, digital office, dan digital public relation. Program ini bukan sekadar lomba, melainkan wujud nyata komitmen negara menghadirkan ruang partisipasi digital yang setara bagi penyandang disabilitas.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, yang ditemui di lokasi, menyambut gembira penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, urgensi kompetisi TIK bagi penyandang disabilitas terletak pada upaya membangun ekosistem digital yang benar-benar inklusif.
“Transformasi digital jangan sampai meninggalkan kelompok disabilitas. Ajang ini menjadi bukti bahwa negara hadir, membuka peluang pendidikan, kerja, dan kreativitas yang setara bagi semua,” ujar Tholabi dalam keteranga tertulis.
Tholabi menekankan, keberadaan kompetisi semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang apresiasi, tetapi juga sarana mendorong kesadaran publik tentang kemampuan penyandang disabilitas untuk berkontribusi di bidang teknologi.
Dalam kesempatan itu, Tholabi menyampaikan apresiasi khusus kepada Kementerian Komdigi, terutama pimpinan BAKTI, yang konsisten menyelenggarakan kompetisi ini setiap tahun.
“Program ini sangat bermanfaat, sekaligus menjadi bukti kepedulian negara. Tidak semua lembaga memberi perhatian serius seperti ini. Saya kira Kementerian Komdigi menunjukkan langkah strategis dengan membumikan keadilan digital,” katanya.
Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta ini berharap kompetisi TIK bagi penyandang disabilitas dapat terus berlanjut dengan skala lebih luas. Ia mendorong adanya kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, hingga sektor swasta untuk memperkuat dampaknya.
“Ke depan, saya berharap kegiatan ini melahirkan lebih banyak talenta digital dari kalangan disabilitas. Mereka bisa menjadi role model bagi generasi berikutnya, sekaligus memastikan Indonesia benar-benar menuju pembangunan digital yang inklusif,” tuturnya optimistis.
Ajang ini sendiri akan berlangsung hingga 22 Agustus 2025, menghadirkan berbagai karya dan inovasi peserta yang dinilai oleh dewan juri independen dari kalangan akademisi dan praktisi. Kegiatan akan ditutup oleh Menteri Komdigi, Meutya Hafid.
Reporter: Aas Arbi
Editor: Aditya











