PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Di tengah geliat program pengentasan kemiskinan yang kerap digaungkan, Sarman (70), warga Panimbang, Pandeglang, masih bertahan hidup di gubuk reyot tanpa listrik, dengan makanan sehari-hari hanya dari singkong, talas, dan pisang. Kisahnya menyentil nurani, memotret nyata wajah kemiskinan ekstrem yang belum tersentuh sistem secara utuh.
Tinggal sendiri di gubuk berdinding bilik miring mirip kandang sapi, Sarman mengaku sudah 15 tahun menempati lahan milik orang lain di Kampung Solodengen, Desa Panimbang. Tanpa sanak keluarga yang mendampingi, ia menjalani hari-hari dengan bekerja serabutan, seperti mengurus kebun orang dan mengais barang bekas dengan penghasilan Rp15–20 ribu per hari.
“Ini lahan orang, saya cuma nempatin doang,” ujarnya, Selasa 26 Agustus 2025.
“Kalau malam pakai lampu apa? Enggak pakai lampu, peteng terus,” tambahnya dengan nada lirih.
Sarman juga menyebut hanya dua kali menerima bantuan pemerintah sebesar Rp300 ribu. Sisanya, hidupnya bergantung sepenuhnya pada kekuatan fisik, meski usia dan kondisi fisik jelas sudah tidak lagi mendukung.
“Kalau tidak bekerja, saya tidak bisa makan,” ucapnya.
Camat Panimbang, Heru, mengakui pihaknya baru menindaklanjuti kondisi Sarman. Ia menjelaskan Sarman belum pernah terdaftar dalam program bantuan resmi seperti BPNT atau PKH, karena tidak memiliki KTP.
“Kalau tidak ada KTP, dia tidak bisa menerima bantuan. Langkah awal kita bantu penerbitan KTP dulu,” ujarnya.
Heru menyebutkan bahwa bantuan dari desa sudah pernah diberikan secara insidental, dan kini salah satu langkah awal adalah penerbitan dokumen kependudukan agar lansia tersebut bisa masuk data penerima bansos.
“Kami bersama pemerintah desa akan memaksimalkan kapasitas masing-masing untuk membantu yang bersangkutan,” kata Heru
Namun hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Sosial Pandeglang, Wawan Setiawan, belum bisa dimintai tanggapan. Keberadaannya pun tidak ditemukan di kantor saat hendak dikonfirmasi langsung.
Editor : Merwanda











