KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Secara normal, manusia bernapas melalui hidung, namun ada beberapa yang melalui mulut.
Ternyata bernapas melalui mulut, baik saat beraktivitas maupun saat tidur, bisa berdampak signifikan terhadap kesehatan gigi, rahang, dan bentuk wajah, terutama bagi anak-anak dan remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Dokter gigi spesialis ortodontis di Bethsaida Hospital Dental Center, drg. Fauzia Adhiwidyanti, Sp.Ort, mengatakan bahwa kebiasaan bernapas melalui mulut yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar, biasanya terjadi karena adanya kesulitan bernapas melalui hidung.
Saat aliran udara melalui hidung berkurang, sisa udara akan dipaksakan keluar melalui mulut.
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, maka akan ada resiko terjadinya masalah gigi dan rahang pada masa yang akan datang.
“Nah, kebiasaan ini umumnya disebabkan oleh gangguan pada rongga pernapasan atas, yang mengurangi aliran udara melalui hidung, sehingga tubuh secara otomatis menggunakan mulut sebagai jalan keluar udara.” ujar drg. Fauzia, dikutip RADARBANTEN.CO.ID, Jumat, 5 September 2025.
Menurutnya, ketika masalah tersebut terjadi pada anak-anak yang masih dalam fase pertumbuhan, dampaknya akan lebih signifikan.
Kebiasaan bernapas melalui mulut pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan lengkung gigi atas menjadi sempit, gigi maju, gigitan terbalik di gigi belakang, atau gigitan terbuka di gigi depan yang menyulitkan aktivitas pengunyahan maupun memotong makanan.
Selain itu, katanya, dampak lainnya adalah mulut kering akibat berkurangnya produksi saliva, sehingga kebersihan mulut terganggu yang dapat meningkatkan resiko terjadinya gigi berlubang dan penyakit gusi.
Kebiasaan bernapas lewat mulut, kata drg. Fauzia, juga akan berisiko pada gangguan perkembangan wajah, terutama pertambahan vertikal sepertiga bawah wajah, yang dikenal sebagai kondisi long face.
“Jadi, di sinilah peran dokter gigi spesialis ortodontis menjadi sangat penting. Sebab dokter ortodontis tidak hanya menangani masalah estetika gigi, tetapi juga mendiagnosa dan menangani gangguan akibat kebiasaan bernapas melalui mulut,” ungkapnya.
drg. Fauzia menambahkan, perawatan ortodontik dapat membantu memperbaiki posisi gigi, memotivasi pasien untuk bernafas lewat hidung, serta mencegah risiko komplikasi jangka panjang.
Dikatakan drg. Fauzia, perawatan ini penting dilakukan sejak dini, terutama bagi anak-anak, agar pertumbuhan gigi dan wajah tetap optimal.
“Dengan penanganan tepat, kita tidak hanya memperbaiki gigitan dan estetika gigi, namun juga meningkatkan kesehatan mulut, bentuk wajah dan kualitas hidup anak,” pungkas drg. Fauzia.
Editor: Agus Priwandono











