SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Awalnya, publik dikejutkan oleh temuan zat radioaktif dalam udang beku asal Banten yang diekspor ke Amerika Serikat. Kekhawatiran merebak, bahkan mencuat ke tingkat nasional. Tapi hasil penyelidikan terbaru mengungkap satu fakta mengejutkan: sumber radioaktif itu diduga kuat berasal dari pabrik peleburan baja, bukan dari laut ataupun udangnya.
Temuan ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Banten, Wawan Gunawan, usai menerima laporan hasil investigasi lapangan yang dilakukan oleh tim lintas instansi.
“Kementerian LH, Badan Pengawas Nuklir (Bapeten), Perikanan, hingga Mabes Polri sudah turun tangan dan melakukan investigasi,” ujar Wawan, Senin 8 September 2025.
Fokus penyelidikan mengerucut ke Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang. Di wilayah ini, diketahui terdapat sejumlah pabrik peleburan baja skala besar yang mengolah baja bekas atau scrap metal yang sebagian diimpor dari luar negeri.
“Penyebab radioaktif bukan dari alam, tapi kuat indikasinya dari bahan baku peleburan baja yang dikirim impor. Dan memang di kawasan itu ada beberapa pabrik peleburan baja,” ungkap Wawan.
Menariknya, produk udang yang semula dicurigai tercemar ternyata dinyatakan aman. Hal itu diperkuat setelah digelar rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
“Berdasarkan hasil rakor kemarin dengan Kemenko Pangan, bahwa produk udang asal Banten yang didapatkan dari alam itu aman, tidak ada paparan radioaktif,” katanya.
Meski bukan berasal dari perairan atau produk laut secara langsung, paparan radioaktif dari industri sekitar ditengarai menyebar ke lingkungan, termasuk ke area pengolahan produk perikanan. Dugaan inilah yang kini sedang didalami lebih jauh oleh satuan tugas (Satgas) khusus.
DLHK Banten pun meminta masyarakat tetap waspada dan menghindari area yang sudah terdeteksi terdapat paparan radioaktif.
“Kami masih menunggu hasil dari investigasi dari pihak Satgas itu,” ujar Wawan. “Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati titik area paparan radioaktif.”
Editor : Merwanda











