Oleh: Erna Windihastiwi (Mahasiswa Magister Pedagogik)
Sering kali di sekitar kita—baik di gang-gang pemukiman urban maupun pedesaan di Kota Serang—kita mendengar kebanggaan orang tua saat anaknya yang masih duduk di bangku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung (Calistung). Di tingkat Sekolah Dasar (SD) kelas awal, anak-anak sudah dibebani dengan tugas tematik yang padat. Sepintas, ini terlihat seperti kemajuan pendidikan yang pesat. Namun, dari kacamata pedagogik, ini adalah alarm tanda bahaya.
Pertanyaannya: apakah kurikulum dan program yang diterapkan di pendidikan dasar kita sudah benar-benar menjawab “kebutuhan” anak, atau sekadar memuaskan “ambisi” orang dewasa?
Dalam ilmu Perencanaan Pendidikan, kesalahan fundamental sering terjadi karena kita melompati satu tahap krusial: Asesmen Kebutuhan (Needs Assessment). Asesmen ini bukan sekadar tes untuk siswa, melainkan proses diagnosis mendalam untuk menemukan kesenjangan antara kondisi ideal yang diamanatkan oleh psikologi perkembangan anak, dengan realitas yang terjadi di lapangan.
Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa
Salah satu dosa terbesar dalam perencanaan pendidikan dasar adalah memberlakukan anak layaknya “miniatur orang dewasa”. Kebutuhan kognitif dan psikomotorik anak usia PAUD dan SD kelas bawah berpusat pada bermain, eksplorasi lingkungan, dan pembentukan karakter dasar (empati, regulasi emosi, kemandirian).
Ketika sekolah atau pemerintah daerah merancang program tanpa melakukan asesmen kebutuhan yang tepat, yang lahir adalah kebijakan “karbitan”. Anak-anak dipaksa menguasai logika abstrak dan duduk diam mendengarkan ceramah berjam-jam. Dampaknya jelas: stres akademik pada usia dini, matinya kreativitas, dan yang paling fatal, anak kehilangan cinta pada proses belajar itu sendiri (learning loss motivation).
Skala Tantangan Kota Serang Tahun 2025
Tantangan ini menjadi sangat riil mengingat skala partisipasi pendidikan dasar di Kota Serang yang sangat masif. Berdasarkan data terbaru dari Website Resmi Pemerintah Kota Serang tahun 2025, tercatat jumlah peserta PAUD (formal maupun non-formal) mencapai lebih dari 15.000 orang (tepatnya 15.984 pada Semester 1). Di tingkat SD, beban perencanaan juga sangat besar; sebagai contoh, hanya di Kecamatan Walantaka saja terdapat lebih dari 13.000 siswa SD (13.504 pada Semester 2).
Tanpa asesmen kebutuhan yang presisi untuk ribuan anak ini, pemerintah daerah dan sekolah akan sangat riskan terjebak dalam perencanaan “one-size-fits-all” (satu ukuran untuk semua) yang tidak relevan dengan keunikan perkembangan setiap anak.
Kesadaran akan pentingnya asesmen kebutuhan ini juga mulai disuarakan oleh pembuat kebijakan di daerah. Dalam sebuah forum tentang Standar Pengelolaan Pendidikan, Pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang—mereferensikan semangat Petunjuk Teknis Penerimaan Murid Baru 2025—mengingatkan:
“Kebutuhan pendidikan tidak bisa sekadar diasumsikan. Tanpa asesmen kebutuhan yang akurat pada setiap satuan pendidikan dasar, program-program kita riskan menjadi formalitas kognitif semata. Kita harus memastikan bahwa fondasi anak Serang di PAUD dan SD adalah fondasi karakter dan kebahagiaan belajar, bukan hanya tumpukan ambisi akademik yang dini.”
Mengembalikan Arah Perencanaan
Untuk membenahi ini, perencanaan pendidikan di jenjang PAUD dan SD harus dirombak secara bottom-up (dari bawah ke atas), berlandaskan tiga pilar asesmen kebutuhan:
- Memetakan Kebutuhan Perkembangan Anak: Perencanaan harus mengevaluasi: apakah porsi bermain sambil belajar sudah cukup? Apakah fasilitas sekolah sudah memfasilitasi kebutuhan motorik kasar dan halus mereka?
- Kebutuhan Peningkatan Kapasitas Pendidik: Guru PAUD dan SD adalah arsitek peradaban. Asesmen harus menyoroti kebutuhan pelatihan bagi guru mengenai kompetensi pedagogis—bagaimana mengajar tanpa membebani.
- Kebutuhan Edukasi Orang Tua (Parenting): Perencanaan pendidikan dasar tidak akan sukses tanpa sinkronisasi dengan rumah. Program edukasi bagi orang tua (parenting class) harus menjadi bagian tak terpisahkan dari perencanaan program sekolah tahunan untuk menyatukan persepsi mengenai kebutuhan riil anak.
Kesimpulan
Pendidikan dasar (PAUD dan SD) adalah fondasi rumah besar bernama masa depan Kota Serang. Tidak ada insinyur waras yang membangun atap megah sebelum memastikan fondasinya kuat menahan beban. Asesmen Kebutuhan hadir untuk memastikan bahwa anggaran, waktu, dan energi di sekolah dasar diinvestasikan untuk menumbuhkan karakter dan kemampuan dasar anak, bukan untuk memaksakan mereka berlari sebelum benar-benar siap berjalan.
Sudah saatnya kita mau menunduk, sejajar dengan mata anak-anak kita, dan bertanya: “Apa yang sebenarnya kalian butuhkan untuk tumbuh bahagia hari ini?”










