SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sejumlah atlet BMX asal Banten menyuarakan kekecewaan mereka terhadap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.
Meski berhasil meraih prestasi gemilang di ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VII 2025 di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), apresiasi dari pemerintah daerah tak kunjung dirasakan.
Pada ajang nasional tersebut, atlet BMX Banten sukses memborong tiga medali emas sekaligus. Prestasi ini mengantarkan Banten berada di posisi ke-9 nasional. Sayangnya, pencapaian tersebut justru luput dari perhatian Pemprov Banten.
Bahkan, sejumlah atlet mengaku kerap kesulitan saat hendak mengikuti kejuaraan di level regional, nasional, hingga internasional. Salah satunya dialami Achmad Farhan, atlet asal Serang yang batal berlaga di Kejuaraan Nasional BMX Freestyle 2025 di Ciamis karena minim dukungan. Padahal, Farhan sudah berulang kali menyumbangkan prestasi, termasuk medali perak di nomor BMX Street Best Trick pada Fornas lalu.
Ketua Asosiasi BMX Indonesia (ABI) Banten, Oman Solihin, menuturkan bahwa kondisi ini sangat memprihatinkan. Menurutnya, dalam 14 tahun terakhir para atlet BMX Banten telah mengukir banyak prestasi di tingkat nasional hingga internasional, namun perhatian pemerintah hampir tidak ada.
“Kami bangga bisa membawa nama Banten. Tapi sejak 2011 sampai sekarang, tidak ada apresiasi atau perhatian serius dari pemerintah daerah. Jangankan bantuan materi, fasilitas latihan saja sangat minim,” ungkap Oman, Minggu 21 September 2025.
Lebih jauh, Oman menilai kondisi ini membuat Banten berpotensi kehilangan atlet terbaiknya. Beberapa di antaranya bahkan sudah menyatakan siap meninggalkan Banten dan membela provinsi lain di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026.
Salah satunya adalah Heru Anwari, atlet berprestasi yang berpeluang pindah ke Jawa Barat. Alasannya, Pemprov Jawa Barat dinilai jauh lebih peduli. Para atlet di provinsi tersebut mendapatkan bonus besar dari Porda, Porprov, hingga PON dengan kisaran Rp250 juta–Rp350 juta.
“Kami tidak tahu apakah ini karena miskomunikasi di KORMI atau kurangnya empati dari pejabat terhadap olahraga rekreasi. Yang jelas, kami kecewa,” tegas Oman.
Meski begitu, Oman masih berharap Gubernur Banten, Andra Soni, dapat memberikan perhatian nyata, terutama dalam pembangunan sarana dan prasarana latihan. Ia juga menegaskan agar olahraga rekreasi di bawah naungan KORMI tidak dianaktirikan dibanding olahraga prestasi yang berada di bawah KONI.
“Keduanya sama-sama dijamin undang-undang keolahragaan. Tidak boleh ada perbedaan perlakuan,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











