SERANG, RADARBANTEN.CO.ID- Nelayan di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang mengaku mengalami kesulitan untuk mencari ikan. Bukan sekedar karena cuaca, tetapi karena kondisi tempat mencari ikan yang semakin jauh karena terkepung oleh industri.
Salah seorang nelayan, Umar mengatakan, apabila melihat perhitungan bulan dan tanggal, seharusnya saat ini masih menjadi musim yang bagus untuk menangkap teri yang menjadi ikan buruannya. Namun lebih dari satu pekan ini justru tangkapan nya sangat merosot, bahkan sering kali pulang dengan tangan kosong.
“Sekarang musimnya sudah tidak bisa diprediksi, kalau dulu ya benar sesuai dengan hitungan bulan yang bisa digunakan. Sekarang ini kalau pake hitungan ya masih musim seharusnya, tapi justru bulan-bulan ini tangkapannya sering kosong,” katanya Minggu 28 September 2025.
Ia mengaku, jika salah satu faktor yang memang berpengaruh ialah kondisi cuaca yang mengakibatkan jumlah tangkapan menurun drastis. Tak hanya itu faktor lainnya yang mengakibatkan tangkapan merosot adalah kondisi laut yang sudah banyak dikepung oleh industri.
Hal ini tentunya membuat ia dan nelayan lain nya terpaksa harus bergeser lebih jauh ke tengah dan mencari ikan buruannya ke pesisir dekat pulau-pulau di Kabupaten Serang.
“Karena kan kalau ikan teri bukan ikan perairan dalam, tetapi di dekat pesisir, makanya kita biasanya mencari hingga ke dekat pulau cangkir. Kalau pesisir sini sudah tidak bisa karena sudah banyak industri,” ujarnya.
Ia mengaku, kondisi yang menyulitkan dalam mencari ikan membuat mereka justru kesulitan untuk menutupi biaya operasional mereka untuk mencari ikan. “Solar sana kurang lebih Rp300 ribu sekali beli ke Pom nelayan, belum biaya lainnya kebutuhan selama mencari ikan, seperti untuk makan rokok dan lainnya. Sementara pendapatan nya akhir-akhir ini sering kosong, makanya kita bingung untuk nutupin biayanya,” ujarnya.
Ia mengaku jika dulu tak perlu jauh-jauh menjaring ikan hingga ke tengah laut saat belum banyak industri di kawasan Bojonegara-Puloampel. Pesisir perairan Bojonegara sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari nelayan Wadas.
Namun kini, kondisinya sudah sangat berubah, ada banyak pesisir pantai yang sudah ditanami oleh beton-beton industri sehingga ruang mereka untuk mencari ikan semakin sempit dan terpaksa harus terlempar lebih jauh untuk memastikan agar hasil tangkapannya cukup banyak sehingga bisa untuk menghidupi keluarga dan menutup biaya selama operasional.
“Dulu kalau sedang musim yang banyak sekali, bahkan yang ngambil ikan pun sampai capek dan ga keambil semua. Sekarang ya sudah susah, bahkan penghasilan pun hilang. Sekarang sudah terkepung industri,” ujarnya.
Biasanya, saat sedang musim ikan teri, dirinya selalu berangkat melaut setiap hari. Berangkat sejak pagi, lalu kemudian sore harinya pulang ketika hasil tangkapan sudah cukup banyak. “Kalau berangkat malam, paling pulang jam 2 pagi. Ya kadang dapat, kadang juga ga dapat,” ujarnya.
Ia mengatakan untuk harga ikan teri sendiri cukup fluktuatif. Pada saat sedang musim dan tanggapan nya sedang melimpah, ikan teri hanya dihargai sebesar Rp7 ribu hingga Rp10 ribu.
Ia pun berharap pemerintah bisa memberikan perhatian kepada para nelayan, khususnya di musim-musim tertentu saat kondisi cuaca tidak memungkinkan bagi nelayan untuk melaut. “Ini penting agar nelayan bisa terbantu khususnya saat musim sedang tidak menentu yang membuat kami nelayan tidak bisa melaut. Semoga ini bisa dipertimbangkan,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











