SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (22/10/2025). Harga emas Antam hari ini anjlok hingga Rp177.000 per gram, menjadi Rp2.308.000 per gram, setelah sehari sebelumnya masih berada di level Rp2.485.000 per gram.
Penurunan signifikan ini menjadi koreksi harian terdalam sepanjang Oktober 2025. Berdasarkan laman resmi Logam Mulia Antam, harga pembelian kembali (buyback) juga turun drastis sebesar Rp175.000, ke posisi Rp2.190.000 per gram.
Tekanan dari Kuatnya Dolar AS
Analis pasar emas menilai, koreksi tajam ini terjadi seiring menguatnya nilai dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Kondisi tersebut membuat investor global melepas aset safe haven seperti emas dan beralih ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi.
Di pasar global, harga emas spot juga terkoreksi ke level US$2.285 per troy ounce, turun hampir 3 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Penurunan ini menandakan adanya aksi ambil untung (profit taking) setelah reli panjang harga emas dalam beberapa minggu terakhir.
Meski demikian, analis menilai tekanan terhadap harga emas bersifat sementara. Harga diprediksi berpotensi stabil kembali apabila ketidakpastian ekonomi global meningkat, terutama terkait kebijakan suku bunga The Fed dan potensi perlambatan ekonomi di kawasan Eropa dan Asia.
Masyarakat Manfaatkan Momentum Penurunan
Sementara itu, masyarakat di dalam negeri justru memanfaatkan momentum penurunan harga ini untuk membeli emas. Beberapa gerai emas dan platform digital melaporkan peningkatan transaksi pembelian logam mulia sejak pagi hari.
Berikut daftar harga emas Antam per hari ini, Rabu (22/10/2025):
- 0,5 gram: Rp1.254.000
- 1 gram: Rp2.308.000
- 5 gram: Rp11.290.000
- 10 gram: Rp22.520.000
- 50 gram: Rp112.200.000
- 100 gram: Rp224.200.000
Penurunan harga yang cukup tajam ini menjadi pengingat bagi investor untuk tetap memperhatikan volatilitas harga emas yang tinggi, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang masih fluktuatif.
Reporter: Yusuf Permana











