SERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Banyak pelaku bisnis minuman fokus pada rasa dan tampilan produk, tapi lupa menghitung Harga Pokok Produksi (HPP).
Padahal, menghitung HPP secara tepat bisa menentukan apakah bisnis F&B akan untung atau justru merugi tanpa disadari.
HPP mencakup seluruh biaya yang dikeluarkan untuk membuat satu produk hingga siap dijual, mulai dari bahan baku, kemasan, tenaga kerja, hingga listrik dan sewa tempat.
Pahami Komponen HPP
Konsultan bisnis kuliner Rafi Andhika menjelaskan bahwa HPP terdiri dari empat komponen utama:
1. Biaya bahan baku langsung, seperti kopi, susu, gula, air, es batu, dan topping.
2. Biaya kemasan, meliputi gelas, tutup, label, dan sedotan. Biaya kecil ini bisa berpengaruh besar pada harga jual.
3. Biaya tenaga kerja langsung, seperti upah barista atau staf dapur.
4. Biaya overhead produksi, seperti listrik, air, gas, dan penyusutan alat.
Contoh Perhitungan HPP
Sebagai ilustrasi, Rafi memberi contoh untuk produk Es Kopi Susu Gula Aren.
Dalam sehari, pelaku usaha bisa memproduksi 100 gelas minuman dengan total biaya:
Bahan baku: Rp160 ribu
Kemasan: Rp100 ribu
Tenaga kerja: Rp50 ribu
Listrik: Rp20 ribu
Total biaya produksi: Rp330 ribu per 100 gelas.
Rumus perhitungan sederhana:
HPP = Total Biaya Produksi ÷ Jumlah Produk
Maka, HPP per gelas sebesar Rp3.300.
Menentukan Harga Jual
Setelah mengetahui HPP, pelaku usaha bisa menambahkan margin keuntungan 30–60 persen.
Jika memilih margin 50 persen, harga jual Es Kopi Susu Gula Aren bisa dipatok Rp5.000 per gelas.
Dengan asumsi semua produk terjual, pelaku usaha berpotensi meraih laba kotor sekitar Rp170 ribu per hari.
Kendalikan Biaya Produksi
Pemilik usaha perlu rutin mengevaluasi biaya produksi untuk menjaga efisiensi.
Gunakan bahan berkualitas, kelola stok dengan cermat, dan pilih kemasan menarik tapi tetap hemat biaya.
Dengan perhitungan HPP yang akurat, pengusaha bisa menentukan titik impas (break-even point) dan menyusun strategi harga agar bisnis tetap untung.
Editor: Aas Arbi











