Oleh Pormadi Simbolon
SETIAP tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan Nasional. Tanggal ini bukan sekadar simbol sejarah, tetapi penanda semangat keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air yang melampaui waktu.
Namun, di tengah dunia yang berubah cepat dan penuh ketidakpastian hari ini, makna “pahlawan” seolah perlu ditafsirkan kembali. Siapakah pahlawan di era sekarang—ketika musuh tidak lagi datang dengan senjata, melainkan dalam bentuk lain: ketidakpedulian, disinformasi, dan krisis moral?
Di masa lalu, pahlawan adalah mereka yang berani mengangkat senjata dan mempertaruhkan hidup demi kemerdekaan bangsa. Mereka mengorbankan kenyamanan pribadi demi masa depan generasi berikutnya.
Akan tetapi, zaman kini menuntut bentuk kepahlawanan baru: kepahlawanan moral dan sosial. Kita hidup di tengah situasi yang oleh sosiolog Zygmunt Bauman disebut sebagai modernitas cair—sebuah masa ketika segala sesuatu serba berubah, nilai-nilai bergeser cepat, dan ikatan sosial melemah. Dalam situasi cair seperti itu, keberanian terbesar bukan lagi menghunus bambu runcing, melainkan menegakkan komitmen dan integritas di tengah arus yang mengikis makna kemanusiaan.
Pahlawan Moral
Krisis zaman sekarang bukanlah krisis perang fisik, melainkan krisis kejujuran dan tanggung jawab sosial. Ketika kebohongan menjadi komoditas di ruang digital, dan kebenaran bisa dipelintir oleh algoritma media sosial, pahlawan adalah mereka yang tetap berpihak pada kejujuran dan akal sehat. Ia berani berkata benar meski tidak populer dan bertindak adil meski sendirian.
Kita mengenal banyak wajah kepahlawanan yang tak terekam kamera: guru yang dengan sabar mengajar di pelosok; tenaga kesehatan yang bekerja tanpa pamrih; pejabat publik yang menolak gratifikasi meski dihadapkan pada tekanan; atau warga biasa yang membantu tetangga di kala bencana. Mereka semua memperlihatkan satu hal yang sama: keberanian untuk berbuat baik secara konsisten, tanpa menunggu panggilan penghargaan.
Filsuf Hannah Arendt pernah menulis bahwa tindakan politik yang sejati adalah ketika seseorang berani tampil di ruang publik dan bertanggung jawab atas dunia yang sama-sama kita huni (The Human Condition, 1958). Dalam bahasa sederhana, pahlawan adalah mereka yang tidak bersembunyi di balik kenyamanan pribadi, tetapi keluar dari diri demi kebaikan bersama.
Kepahlawanan di Era Ketidakpastian
Zaman sekarang ditandai oleh apa yang disebut banyak pemikir sebagai era ketidakpastian. Teknologi mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berelasi, tetapi juga menghadirkan kesepian baru. Banyak orang merasa kehilangan arah—tersesat di antara citra dan realitas, antara harapan dan kenyataan. Di tengah itu, pahlawan adalah mereka yang menjadi jangkar nilai dan penjaga harapan.
Mereka hadir bukan untuk menyelamatkan dengan heroisme besar, melainkan untuk menegakkan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Pahlawan masa kini menolak logika pragmatis “asal cepat, asal untung” dan menggantinya dengan keberanian “asal benar, asal bermakna.” Di tengah dunia yang rapuh, mereka menjadi sumber kekuatan moral bagi komunitasnya.
Makna Pahlawan bagi Banten
Banten memiliki sejarah panjang kepahlawanan yang layak diingat: dari Sultan Ageng Tirtayasa yang berjuang melawan kolonialisme Belanda pada abad ke-17, hingga para pejuang rakyat seperti Brigjen KH. Syam’un, serta tokoh-tokoh perlawanan rakyat Serang dan Pandeglang pada masa revolusi kemerdekaan. Kepahlawanan mereka berakar pada iman, keberanian, dan cinta kepada rakyat.
Namun, Banten hari ini menghadapi bentuk “penjajahan” baru: kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, korupsi, serta menurunnya etos kerja dan solidaritas sosial. Maka, semangat kepahlawanan Banten tidak cukup hanya dikenang di monumen, tetapi perlu dihidupkan kembali dalam perilaku sehari-hari masyarakat dan pejabat publik.
Menjadi pahlawan di Banten hari ini berarti menjadi ASN yang melayani dengan hati, bukan sekadar menjalankan tugas administratif; guru dan penyuluh yang mendidik dengan kasih sayang, bukan hanya menyampaikan kurikulum; pemuda yang berani berpikir kritis dan berkarya bagi lingkungan, bukan larut dalam budaya instan; serta tokoh agama yang membangun jembatan antarumat, bukan memperlebar jurang perbedaan.
Kepahlawanan di Banten berarti menjaga semangat persaudaraan dan gotong royong di tengah godaan individualisme. Ia menuntut keberanian untuk berkata, “Saya bertanggung jawab terhadap kebaikan bersama, bukan hanya urusan pribadi.”
Menyalakan Lilin di Tengah Gelap
Dalam banyak hal, zaman sekarang tidak lebih mudah daripada masa revolusi. Jika dulu para pahlawan menghadapi penjajahan fisik, kini kita menghadapi penjajahan batin: keinginan untuk cepat kaya, haus pengakuan, dan ketergantungan pada teknologi yang membentuk citra semu. Karena itu, menjadi pahlawan di era digital berarti menyalakan lilin kecil di tengah kegelapan zaman.
Kita mungkin tidak dapat mengubah dunia secara besar, tetapi kita bisa membuat lingkar kecil kehidupan kita lebih manusiawi. Seperti kata pepatah lama: lebih baik menyalakan satu lilin daripada mengutuk kegelapan.
Dalam konteks itu, setiap warga Banten—setiap pendidik, ASN, dan pemuda—memiliki kesempatan untuk menjadi pahlawan bagi sesamanya.
Hari Pahlawan bukan hanya peringatan masa lalu, tetapi panggilan untuk masa kini. Di tengah ketidakpastian zaman, pahlawan adalah mereka yang tetap setia pada nilai, peduli pada sesama, dan berani menegakkan kebenaran meski arus dunia menentangnya.
Pahlawan tidak selalu berpakaian seragam atau dimakamkan di taman kehormatan. Ia bisa jadi duduk di samping kita: guru, petani, ASN, ibu rumah tangga, atau anak muda yang menolak menyerah pada pesimisme.
Maka, di tengah dunia yang cair dan tidak pasti, kepahlawanan sejati adalah kesetiaan kepada kemanusiaan dan kebaikan bersama.
Dan seperti semangat rakyat Surabaya tahun 1945, kita diajak terus menjaga api keberanian itu agar tak padam—termasuk di tanah Banten tercinta.

Pormadi Simbolon, Alumnus Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Banten
Editor : Aas Arbi











