KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Program susu sekolah dalam skema Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan hampir satu tahun.
Sepanjang pelaksanaannya, persoalan terbesar yang menjadi sorotan adalah tantangan logistik dan distribusi, terutama terkait sifat susu yang mudah rusak jika tidak ditangani dengan benar.
Situasi ini beberapa kali memicu insiden keamanan pangan, termasuk kasus susu yang terkontaminasi mikroba karena tidak tersimpan dalam kondisi ideal.
Dalam konteks iklim tropis Indonesia, distribusi susu menghadapi hambatan berat. Susu pasteurisasi memiliki masa simpan yang relatif singkat sehingga membutuhkan rantai pasok pendingin yang ketat.
Infrastruktur yang belum merata, listrik yang tidak stabil, jarak distribusi yang jauh, dan biaya logistik yang tinggi memperburuk situasi tersebut.
Dewan Pakar Gerakan Nasional Gizi (BGN), Prof. Epi Taufik, dalam sebuah diskusi panel di IPB University Bogor pada 27 November lalu, menyampaikan bahwa kemasan aseptik untuk susu UHT merupakan solusi paling realistis untuk mendukung keberlanjutan program susu sekolah MBG dalam skala nasional.
“Teknologi ini mampu menjawab tantangan besar distribusi di Indonesia, terutama ke ribuan sekolah yang tidak memiliki fasilitas pendingin,” ujar Prof Epi melalii siaran pers yang diterima Kamis 11 Desember 2025.
Menurut Prof. Epi, susu UHT dalam kemasan aseptik memiliki masa simpan panjang, yakni enam hingga dua belas bulan selama kemasan tidak dibuka atau mengalami kerusakan.
“Teknologi ini memungkinkan pengiriman dalam volume besar dengan risiko kontaminasi yang sangat rendah, serta biaya logistik yang lebih efisien,” jelasnya.
Prof. Epi menegaskan bahwa aseptic packaging adalah teknologi strategis untuk negara kepulauan seperti Indonesia. Susu dapat bertahan di suhu ruang, mudah disalurkan ke wilayah terpencil, dan lebih aman secara higienis.
Hal ini diyakini dapat mempercepat pemerataan akses gizi, termasuk untuk daerah 3T, dan memperkuat keberhasilan program pemerintah yang membutuhkan suplai susu dalam jumlah besar.
Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, turut menyoroti kebutuhan akan kemasan pangan yang fungsional, higienis, dan aman, seiring dengan meningkatnya tuntutan konsumen.
Ia menilai tren ini semakin relevan bagi program distribusi pangan berskala nasional seperti MBG, yang membutuhkan jaminan keamanan produk dari pabrik hingga ke tangan siswa.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa inovasi pengemasan, terutama teknologi aseptik, menjadi kunci dalam mengatasi persoalan distribusi susu di Indonesia. Dengan langkah yang tepat, program MBG dinilai dapat berjalan lebih optimal dan aman bagi jutaan siswa penerimanya.
Editor Daru











