KOTA TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kota Tangerang menyimpan beragam situs bersejarah yang menjadi penanda perjalanan panjang peradaban, akulturasi budaya, serta perkembangan sosial masyarakatnya.
Dari peninggalan era kerajaan hingga warisan komunitas Tionghoa Benteng, situs-situs ini kini tak hanya bernilai historis, tetapi juga berkembang sebagai destinasi eduwisata dan ruang publik yang hidup.
Berikut lima situs bersejarah di Kota Tangerang yang layak dikunjungi:
- Masjid Kali Pasir
Masjid Kali Pasir yang berada di bantaran Sungai Cisadane diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Tangerang.
Arsitekturnya memadukan unsur Islam dengan sentuhan budaya Tionghoa, merefleksikan harmoni lintas budaya sejak masa lampau. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Tangerang.
- Museum Benteng Heritage
Bangunan berarsitektur tradisional Tionghoa ini merupakan saksi sejarah komunitas Tionghoa Benteng.
Setelah direstorasi, Museum Benteng Heritage difungsikan sebagai museum sekaligus ruang edukasi yang menyajikan perjalanan sejarah, tradisi, dan kontribusi masyarakat Tionghoa di Kota Tangerang.
- Pasar Lama Tangerang
Pasar Lama Tangerang dikenal sebagai pusat perdagangan tertua dan cikal bakal tumbuhnya kota. Hingga kini, kawasan ini tetap hidup dengan aktivitas ekonomi dan kuliner, sekaligus menyimpan narasi panjang tentang interaksi budaya di tepian Sungai Cisadane. - Kelenteng Boen Tek Bio
Didirikan pada 1684, Kelenteng Boen Tek Bio menjadi salah satu kelenteng tertua di Indonesia. Terletak di kawasan Pasar Lama, kelenteng ini merupakan pusat spiritual dan budaya masyarakat Tionghoa Benteng, serta ikon toleransi dan keberagaman di Kota Tangerang. - Jejak Reruntuhan Benteng VOC
Sejarah Kota Tangerang juga berkaitan dengan keberadaan benteng pertahanan yang dibangun VOC di sekitar Sungai Cisadane.
Meski fisiknya kini nyaris tak tersisa dan telah menyatu dengan permukiman, jejak benteng tersebut menjadi pengingat penting tentang dinamika kekuasaan antara VOC dan Kesultanan Banten di masa lalu.
Editor Daru











