PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Majasari Sukaratu 4 yang dikelola Yayasan Sancang Almuhajirin Peduli resmi diluncurkan.
Dapur tersebut berlokasi di Komplek Majasari, Jalan Nusantara Indah No. 12, Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang.
Kepala SPPG Majasari Sukaratu 4, Tubagus Andika Gusti, mengatakan peresmian dapur ini merupakan bagian dari upaya mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi bagi peserta didik di wilayah Kecamatan Majasari.
“Alhamdulillah hari ini kami meresmikan dapur SPPG Majasari Sukaratu 4. Harapan kami, program Makan Bergizi ini dapat berjalan dengan baik dan lancar, khususnya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah,” kata Andika Gusti, Jumat 9 Januari 2026.
Menurut Andika, dapur SPPG tersebut akan melayani sekitar 2.800 penerima manfaat. Ribuan penerima manfaat itu berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, Madrasah Aliyah (MA), SD, SMP hingga SMA.
“Totalnya kurang lebih 2.800 penerima manfaat dari sekitar 30 sampai 35 sekolah yang berada di Kecamatan Majasari,” ujar dia.
Ia menambahkan, dapur SPPG Majasari Sukaratu 4 merupakan dapur ke-6 yang beroperasi di wilayah Sukaratu. Seiring bertambahnya jumlah dapur, pihaknya berharap pelayanan pemenuhan gizi bagi siswa dapat semakin merata dan optimal.
Terkait perizinan, Andika memastikan dapur SPPG tersebut telah memenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
“Untuk izin dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) Alhamdulillah sudah terbit. Kami juga didukung oleh tenaga yang berpengalaman dan telah memiliki sertifikasi,” jelasnya.
Dapur SPPG Majasari Sukaratu 4 dijadwalkan mulai beroperasi dalam waktu dekat. Dalam operasionalnya, pengelola menaruh perhatian besar pada aspek kebersihan dan keamanan pangan guna mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB), termasuk risiko keracunan makanan.
“Kami sangat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mulai dari sterilisasi dapur, kedatangan karyawan, proses pengolahan makanan, hingga pendistribusian, semuanya kami awasi dengan ketat,” kata Andika.
Andika berharap seluruh proses dapat berjalan aman dan memberikan manfaat nyata bagi para penerima program tersebut.
“Yang terpenting, program MBG ini bisa berjalan lancar dan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang layak,” ujarnya.
Sementara itu, mitra sekaligus owner Yayasan Sancang Almuhajirin Peduli, Hari Haryanto, menegaskan pengelolaan dapur SPPG tidak hanya berfokus pada operasional, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan dan dampak sosial bagi masyarakat sekitar.
“Yang paling utama kami pastikan adalah kualitas. Kualitas makanan dan pelayanan harus benar-benar terjaga,” kata Hari.
Selain itu, kata dia, keberadaan dapur SPPG juga diharapkan memberi manfaat langsung bagi warga sekitar, khususnya masyarakat kurang mampu dan anak-anak sekolah.
“Kami juga punya perhatian untuk warga kurang mampu di sekitar sini. Kemudian untuk anak-anak sekolah, ke depan kami dukung juga di bidang olahraga,” ujarnya.
Hari menegaskan, hasil yang diperoleh dari kerja sama dengan pemerintah tidak sepenuhnya masuk ke yayasan atau mitra. Sebagian manfaat akan disalurkan kembali kepada masyarakat sekitar.
“Apa yang kita dapatkan dari pemerintah tidak semuanya untuk yayasan atau mitra. Ada yang kami kembalikan untuk warga di sini juga,” jelasnya.
Terkait tenaga kerja, Hari memastikan seluruh karyawan dapur SPPG Majasari Sukaratu 4 merupakan warga lokal. Total terdapat 47 karyawan yang terlibat dalam operasional dapur tersebut.
“Semua karyawan berasal dari warga lokal. Totalnya ada 47 orang,” katanya.
Ia juga menyebutkan, untuk pekerja lanjut usia, pihaknya memberikan perhatian khusus dengan mengakomodasi mereka sebagai tenaga harian lepas (THL).
“Yang sudah berumur kami masukkan sebagai THL. Pembayarannya dari dana pribadi dapur. Kasihan, jadi kita bantu,” ungkapnya.
Dalam hal pengawasan dan pencegahan kejadian luar biasa (KLB), termasuk risiko keracunan makanan, Hari memastikan pihaknya telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat.
“Kami sudah punya SOP dan antisipasi. Bahan baku diawasi dengan kamera pengawas atau CCTV di 15 titik. Proses memasak juga dijadwalkan ketat, dari masak sampai makanan dikonsumsi tidak lebih dari lima jam,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahan baku makanan juga dijaga agar tidak terlalu lama disimpan.
“Kalau bahan baku habis, langsung beli dan langsung dimasak. Tidak ada bahan yang mengendap,” tegas Hari.
Ke depan, Hari berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mendorong dapur-dapur MBG lainnya untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pelayanan.
“Harapan saya, teman-teman dapur MBG yang lain bisa sama-sama meningkatkan mutu dan kualitas untuk anak-anak,” pungkasnya.
Editor Daru











