PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Wakil Bupati Pandeglang, Iing Andri Supriadi, meminta para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak selama bulan Ramadan. Ia mengingatkan agar anak-anak tidak terlibat dalam aksi perang sarung maupun balapan liar yang berpotensi mengarah pada tindak pidana.
Menurut Iing, pengawasan perlu dilakukan secara intensif untuk mencegah terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian pemerintah daerah adalah maraknya aksi perang sarung di kalangan remaja.
“Salah satu yang sedang tren sekarang adalah perang sarung. Ini terlihat seperti permainan, tetapi bisa serius karena berisiko menimbulkan luka dan dikhawatirkan terjadi hal yang tidak kita inginkan terhadap anak-anak kita,” kata Iing kepada Radar Banten, Selasa 24 Februari 2026.
Ia menilai perang sarung bukan sekadar permainan, melainkan berpotensi memicu kekerasan dan menimbulkan korban luka.
“Perang sarung ini seperti bencana kecil, tapi serius. Bisa mengakibatkan luka dan dikhawatirkan terjadi hal yang tidak kita inginkan kepada anak-anak kita,” ujarnya.
Selain perang sarung, Iing juga menyoroti balapan liar yang kerap muncul pada malam Ramadan. Ia mengajak orang tua untuk memastikan putra-putrinya tidak terlibat dalam kegiatan negatif tersebut.
“Mari kita jaga putra-putri kita supaya tidak terlibat perang sarung dan hal-hal negatif lainnya,” kata dia.
Terkait kegiatan Sahur on the Road (SOTR), Pemerintah Kabupaten Pandeglang tidak melarang aktivitas tersebut. Namun, Iing menegaskan kegiatan itu harus diisi dengan aktivitas yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Selama kegiatannya positif, seperti berbagi kepada anak jalanan atau masyarakat kurang mampu, saya rasa itu sangat baik,” ucapnya.
Ia menambahkan, kegiatan di ruang publik selama Ramadan perlu dimaknai secara bijak. “Kalau kegiatannya positif, menurut saya sah-sah saja,” ujar Iing.
Pemerintah daerah juga meminta aparatur mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga RT/RW turut aktif memberikan imbauan kepada masyarakat, khususnya orang tua dan remaja, agar menghindari aktivitas negatif.
Sebagai alternatif, Iing mendorong anak-anak mengikuti kegiatan keagamaan seperti pesantren kilat yang lazim digelar di sekolah maupun lingkungan permukiman selama Ramadan.
“Biasanya di sekolah atau di kampung-kampung ada pesantren kilat. Lebih baik anak-anak kita ikut kegiatan itu untuk memperkuat keimanan, keislaman, dan ketakwaan selama Ramadan,” tandasnya.
Editor: Bayu Mulyana











