PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Program pengembangan desa wisata di Kabupaten Pandeglang dinilai belum berjalan maksimal.
Dari 17 desa wisata yang telah ditetapkan sejak 2021, mayoritas belum berkembang dan hanya empat desa yang hingga kini masih aktif.
Kondisi tersebut menjadi catatan bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi keberlanjutan program desa wisata yang sebelumnya digadang-gadang mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat desa.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pandeglang, Rahmat Zultika mengatakan, desa wisata sebenarnya menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat desa.
Namun, dari belasan desa yang telah ditetapkan, hanya sebagian kecil yang masih aktif mengembangkan potensi wisatanya.
“Dari 17 desa wisata yang sudah ditetapkan, yang benar-benar masih berjalan aktif saat ini ada empat desa. Yaitu Desa Bandung di Kecamatan Banjar, Desa Cikaret, Desa Tanjungjaya di Kecamatan Panimbang, dan Desa Sukarame di Kecamatan Carita,” kata Rahmat Zultika, Jumat 6 Maret 2026.
Menurut Rahmat, keberlangsungan desa wisata sangat bergantung pada komitmen pemerintah desa dan masyarakat setempat dalam mengelola potensi wisata yang dimiliki.
Ia menilai desa yang memiliki visi kuat dari kepala desa serta dukungan masyarakat biasanya mampu mengembangkan potensi wisata secara berkelanjutan.
“Desa wisata sangat tergantung pada desa itu sendiri. Kalau pemerintah desanya punya semangat dan visi yang kuat, tentu akan kami dorong untuk terus berkembang,” ujarnya.
Rahmat menjelaskan, Kabupaten Pandeglang memiliki sekitar 326 desa yang sebagian di antaranya memiliki potensi wisata alam maupun budaya. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan menjadi desa wisata yang mampu mendukung sektor pariwisata daerah.
Selain itu, penguatan desa wisata juga masuk dalam rencana pembangunan daerah, khususnya di kawasan penyangga Geopark yang tersebar di delapan kecamatan, seperti Carita, Sukaresmi, Panimbang, Cimanggu hingga Sumur.
“Pengembangan desa wisata di sekitar kawasan Geopark menjadi salah satu prioritas. Harapannya desa-desa ini bisa menjadi penunjang destinasi utama sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Rahmat menambahkan, sektor pariwisata memiliki efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian masyarakat. Kehadiran desa wisata tidak hanya mendorong kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka peluang usaha bagi warga.
“Kalau desa wisata berkembang, bukan hanya sektor wisata yang bergerak. UMKM juga tumbuh, masyarakat bisa membuka usaha kuliner, kerajinan, homestay hingga jasa transportasi,” ujarnya.
Editor Daru











