SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Serang yang juga Sekretaris Daerah Kota Serang, Nanang Saefudin, menyesalkan SPPG Kagungan tidak teliti dalam pemeriksaan makanan.
Hal tersebut diungkapkan Nanang, usai mendapatkan laporan temuan keluhan siswa terhadap roti berjamur di menu MBG.
Temuan tersebut terjadi di SDN 20 Kota Serang. Orang tua siswa mengeluhkan roti dalam paket MBG yang diterima dalam kondisi berjamur sehingga dinilai tidak layak dikonsumsi.
Nanang mengaku menyesalkan adanya insiden roti berjamur dalam menu MBG tersebut.
Menurutnya, pihak SPPG seharusnya melakukan pengecekan secara lebih teliti sebelum makanan didistribusikan kepada siswa.
Ia menegaskan, setiap menu yang akan diberikan kepada siswa wajib melalui proses pemeriksaan, terlebih karena di SPPG terdapat tenaga ahli gizi yang bertugas memastikan kualitas makanan.
“Kami menyesalkan kejadian itu. Di SPPG ada ahli gizinya, sehingga setiap jenis makanan yang akan diberikan kepada siswa seharusnya diperiksa terlebih dahulu. Ini menjadi perhatian agar tidak terulang lagi,” kata Nanang kepada Radar Banten, Minggu, 8 Maret 2026.
Nanang juga mengimbau kepada para siswa untuk tidak mengonsumsi makanan yang dinilai sudah tidak layak. Bahkan, siswa diperbolehkan menolak makanan dari program MBG apabila kondisi makanan tidak baik.
“Kalau menu yang diberikan tidak layak, siswa boleh menolak. Apalagi kalau tidak menyehatkan, misalnya makanan basi, roti yang sudah kedaluwarsa, atau kondisi lain yang tidak layak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Kagungan, Fauzan Rizki, membenarkan adanya roti yang tidak layak konsumsi dalam paket makanan MBG yang dibagikan kepada siswa di SDN 20 Kota Serang.
Menurut Fauzan, kejadian tersebut terjadi akibat adanya kekurangan dalam proses pengecekan makanan sebelum didistribusikan kepada sekolah.
Ia menjelaskan, pihak SPPG menerima laporan dari sekolah setelah makanan didistribusikan, yang menyebutkan terdapat roti berjamur dalam paket MBG yang diterima siswa.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihaknya langsung mengambil langkah cepat dengan mengganti roti yang bermasalah agar siswa tetap mendapatkan makanan yang layak dikonsumsi.
“Begitu ada komplain dari sekolah, kami langsung mengganti roti yang bermasalah. Pada prinsipnya kami bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” katanya.
Di sisi lain, pihak pemasok roti atau supplier menyebut insiden tersebut terjadi akibat kelalaian dalam proses pengiriman barang.
Roti yang seharusnya sudah disortir dan dipisahkan untuk dibuang, kata pihak supplier, justru ikut terbawa dalam pengiriman ke dapur SPPG.
Atas kejadian tersebut, pihak UMKM penyedia roti menyampaikan permohonan maaf kepada pihak SPPG maupun pihak lain yang terdampak atas insiden tersebut.
“Kami memohon maaf atas kelalaian ini yang menimbulkan ketidaknyamanan. Ke depan kami akan melakukan pengecekan yang lebih teliti agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya.
Editor Daru











