SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Serang akan membangun dua sumur bor dalam untuk meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat.
Program tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan air bersih warga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya penanganan stunting di Kabupaten Serang.
Kepala DPUPR Kabupaten Serang, Mochammad Ronny Natadipraja, mengatakan masih banyak warga yang belum memiliki sanitasi layak serta akses air bersih yang memadai.
“Masih ada warga yang melakukan buang air besar sembarangan di sungai. Bahkan ada yang masih bergantung pada tetangga untuk mendapatkan air bersih. Ini menjadi perhatian kami,” ujarnya, Minggu, 15 Maret 2026.
Menurut Ronny, ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak sangat berkaitan dengan kondisi kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan, lingkungan yang tidak sehat akibat sanitasi buruk dapat menjadi salah satu penyebab masalah gizi pada masyarakat.
“Orang yang mengalami kekurangan gizi juga bisa disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat, salah satunya karena sanitasi yang buruk,” katanya.
Pada tahun 2026, DPUPR Kabupaten Serang merencanakan pembangunan dua sumur bor dalam yang berlokasi di Gunung Santri dan Puloampel.
“Kedua wilayah tersebut kerap mengalami kekeringan cukup parah, sehingga sangat membutuhkan sumber air dari sumur bor dalam,” ujarnya.
Air dari sumur bor nantinya akan ditampung di tempat penampungan khusus sebelum didistribusikan kepada warga.
“Airnya akan ditampung di reservoir, kemudian dimanfaatkan bersama oleh warga sekitar. Jaringannya bisa melayani sekitar 70 hingga 200 kepala keluarga,” katanya.
Pengelolaan fasilitas air bersih tersebut nantinya akan diserahkan kepada masyarakat setempat.
Ronny menambahkan, anggaran pembangunan satu sumur bor diperkirakan mencapai sekitar Rp500 juta. Anggaran tersebut mencakup biaya pengeboran, casing, pembangunan menara air, pengadaan mesin, hingga instalasi jaringan pipa ke rumah warga.
“Masih banyak masyarakat yang belum terlayani air bersih. Sebagian warga masih mengambil air dari sungai atau sumber lain, bahkan ada juga yang harus membeli air,” ujarnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani Editor : Aas Arbi











