LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Sejumlah alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tergabung dalam KAHMI, dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Lampung, berkumpul di Pantai Pasir Putih Cihara dalam tajuk “Silaturahmi dan Halal bi Halal Insan Cita Pakidulan”, pada Rabu 25 Maret 2026.
Pertemuan ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan sebuah gerakan konsolidasi potensi sumber daya manusia (SDM). Para alumni akan mengawal dan mendukung Kabupaten Cilangkahan agar menjadi daerah yang mandiri dan bermatabat.
Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten sekaligus tokoh pendidik, Ocit Abdurrosyid Siddiq, mengatakan pertemuan tersebut, menekankan bahwa otonomi daerah adalah manifestasi dari kehendak bebas (free will) sebuah komunitas untuk menentukan nasibnya sendiri.
“Kami yang dulu ditempa di berbagai disiplin ilmu dan berbagai kampus di seluruh Indonesia, kini terpanggil secara moral, sosial, dan politik. Potensi yang terserak ini harus dihimpun dalam satu wadah visi agar pembangunan Cilangkahan tidak gagap,” kata Ocit dalam keteranganya kepada RADARBANTEN.CO.ID, pada Kamis 26 Maret 2026.
“Kita tidak ingin Cilangkahan sekadar menjadi administratif geografis, tapi harus menjadi entitas peradaban yang menyejahterakan rakyatnya,” tambahnya.
Dalam acara tersebut, dibacakan pula “Deklarasi Cihara”, sebuah manifes khidmah yang menegaskan komitmen KAHMI untuk menjadi mitra kritis sekaligus strategis bagi pemerintah dalam mengelola sumber daya alam (SDA) dan manusia di wilayah Banten Selatan.
Ocit menyatakan, KAHMI juga mulai memetakan kepakaran para alumninya dalam lima klaster strategis Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi Maritim, Infrastruktur, Pendidikan, dan Visi Etis-Budaya.
Langkah ini diambil agar saat otonomi resmi diketuk, putra-putri daerah sudah siap dengan “Buku Putih” pembangunan yang saintifik. “Kita harus serba bisa, jangan sampai kehilangan pelita di rumah sendiri,” tandasnya.
Reporter : Nurandi
Editor: Agung S Pambudi











