CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Nama PT Chandra Asri diduga dicatut dalam modus penipuan rekrutmen kerja di Kota Cilegon. Lebih dari 20 pencari kerja mengaku menjadi korban setelah dijanjikan dapat bekerja di perusahaan tersebut dengan syarat membayar biaya pengurusan vaksin booster yang belakangan diduga fiktif.
Salah seorang korban, Eman, mengungkapkan kasus tersebut mulai terungkap pada Senin lalu setelah orang yang diduga sebagai pelaku tidak lagi dapat dihubungi.
Menurut Eman, jumlah korban mencapai lebih dari 20 orang. Mayoritas merupakan masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang berharap memperoleh pekerjaan.
“Korbannya lebih dari 20 orang. Baru ketahuannya hari Senin,” ujar Eman kepada Radar Banten, Rabu, 8 Juli 2026.
Eman menjelaskan, terduga pelaku menawarkan lowongan pekerjaan dengan mengatasnamakan PT Chandra Asri. Para korban kemudian diminta menyerahkan sejumlah uang dengan dalih biaya pembuatan vaksin booster sebagai salah satu syarat administrasi sebelum mulai bekerja.
“Yang saya tahu ada yang diminta sekitar Rp100 ribu untuk pembuatan vaksin booster. Ternyata vaksinnya palsu dan uangnya juga belum dikembalikan. Yang dirugikan rata-rata orang susah,” katanya.
Ia mengaku mengenal terduga pelaku melalui perantara teman. Seluruh komunikasi dilakukan melalui aplikasi WhatsApp sehingga para korban tidak menaruh curiga karena informasi berasal dari orang yang mereka kenal.
“Awalnya dari teman ke teman. Tahunya dari WhatsApp, jadi kami percaya saja,” ucapnya.
Namun, ketika para korban mulai mempertanyakan kepastian pekerjaan yang dijanjikan, terduga pelaku diduga menghilang. Seluruh nomor WhatsApp milik korban juga disebut telah diblokir sehingga tidak lagi dapat dihubungi.
“Orangnya hilang begitu saja, semua nomor korban diblok,” ungkapnya.
Sementara itu, dalam unggahan yang beredar di Facebook, salah seorang korban mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap oknum yang menawarkan pekerjaan dengan mengatasnamakan PT Chandra Asri. Korban juga meminta masyarakat menyebarluaskan informasi tersebut agar tidak ada korban baru.
Editor: Mastur Huda











