LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berencana menjadikan Museum Multatuli dan Gedung Juang sebagai ruang kreatif bagi pelaku UMKM, khususnya di sektor industri kopi dan ekonomi kreatif.
Rencana tersebut disampaikan Kepala Disbudpar Kabupaten Lebak, Yosep Mohamad Holis, saat menanggapi pelaksanaan Coffee Pop Boy Fest 2026 yang digelar di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Senin, 20 Juli 2026.
Menurut Yosep, fasilitas publik yang dikelola pemerintah harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, termasuk menjadi wadah bagi komunitas dan pelaku usaha kreatif untuk berkolaborasi.
“Kami akan membuka ruang-ruang kreatif yang kami miliki, termasuk Museum Multatuli dan Gedung Juang, sebagai tempat para pelaku ekonomi kreatif berkolaborasi dan berkembang. Fasilitas publik ini harus bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat, termasuk komunitas kopi yang sudah menunjukkan geliatnya seperti ini,” ujarnya.
Yosep menilai Coffee Pop Boy Fest 2026 bukan sekadar pameran kopi, tetapi menjadi ajang kolaborasi yang mempertemukan petani kopi, pengusaha, barista, roaster, hingga pelaku seni dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
“Saya memaknainya bukan hanya sekadar acara pameran biasa, tetapi menjadi kolaborasi yang epic antara petani, pengusaha kopi, barista, roaster, dan juga dikombinasikan dengan penampilan band yang sangat menghibur,” katanya.
Ia menjelaskan, Disbudpar Lebak memiliki tanggung jawab mengembangkan 17 subsektor ekonomi kreatif. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah kuliner, termasuk industri food and beverage yang terus berkembang.
Karena itu, pihaknya akan terus memfasilitasi ruang bagi pelaku industri kopi dan pengelola kafe agar dapat berkembang sekaligus memperkuat budaya minum kopi di Kabupaten Lebak.
“Ini penting buat kami untuk terus memfasilitasi ruang dan waktu untuk para pelaku industri kopi atau kafe di Kabupaten Lebak. Pertama, agar kita memasyarakatkan kopi dan mengkopikan masyarakat, intinya itu,” tegasnya.
Yosep juga melihat adanya perubahan pola hidup masyarakat Lebak. Meningkatnya daya beli membuat masyarakat kini semakin gemar mengunjungi kafe, tidak hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga sebagai tempat bersosialisasi, berdiskusi, hingga melakukan pertemuan bisnis.
“Orang Lebak ini sekarang tingkat daya belinya sudah meningkat. Banyak yang mencari kafe-kafe hanya untuk sekadar kongko, diskusi, bahkan untuk negosiasi,” ujarnya.
Ia berharap semangat kolaborasi yang ditunjukkan melalui Coffee Pop Boy Fest 2026 dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi berbagai pihak dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Lebak.
“Mudah-mudahan bisa terus continue dan menginspirasi banyak pihak,” pungkasnya.
Editor: Mastur Huda











